Mengapa kita memaksakan diri membeli baju lebaran
Lebaran telah bergeser dari momentum spiritual menjadi panggung simbolik. Baju baru berfungsi sebagai sinyal status. Dalam logika pemasaran modern, identitas dibeli melalui produk. Industri ritel memahami ini dengan sangat baik. Mereka tidak menjual kain. Mereka menjual rasa “pantas tampil”. Itu adalah konstruksi persepsi. Kedua, ada dorongan sosial implisit. Norma kolektif membentuk ekspektasi: datang ke silaturahmi dengan pakaian lama dianggap kurang layak. Ini bukan aturan agama. Ini aturan budaya konsumtif. Tekanan ini halus, tetapi kuat. Orang membeli bukan karena butuh, tetapi karena takut dianggap kurang. Ketiga, ada bias psikologis bernama present bias. Kepuasan hari ini terasa lebih nyata daripada risiko bulan depan. Otak manusia cenderung mendiskon masa depan. Maka macetnya arus kas bulan berikutnya terasa jauh, abstrak, dan bisa “dipikir nanti”. Keempat, literasi keuangan rendah. Arus kas pribadi jarang diperlakukan seperti laporan manajemen. Dalam akuntansi manajemen, penge...