Postingan

Mengapa kita memaksakan diri membeli baju lebaran

Lebaran telah bergeser dari momentum spiritual menjadi panggung simbolik. Baju baru berfungsi sebagai sinyal status. Dalam logika pemasaran modern, identitas dibeli melalui produk. Industri ritel memahami ini dengan sangat baik. Mereka tidak menjual kain. Mereka menjual rasa “pantas tampil”. Itu adalah konstruksi persepsi. Kedua, ada dorongan sosial implisit. Norma kolektif membentuk ekspektasi: datang ke silaturahmi dengan pakaian lama dianggap kurang layak. Ini bukan aturan agama. Ini aturan budaya konsumtif. Tekanan ini halus, tetapi kuat. Orang membeli bukan karena butuh, tetapi karena takut dianggap kurang. Ketiga, ada bias psikologis bernama present bias. Kepuasan hari ini terasa lebih nyata daripada risiko bulan depan. Otak manusia cenderung mendiskon masa depan. Maka macetnya arus kas bulan berikutnya terasa jauh, abstrak, dan bisa “dipikir nanti”. Keempat, literasi keuangan rendah. Arus kas pribadi jarang diperlakukan seperti laporan manajemen. Dalam akuntansi manajemen, penge...

Untuk saat ini saya memang tidak mencari uang

Kalimat “saat ini tujuan kita bukan uang” tampak sederhana, tetapi maknanya berubah tergantung lensa yang digunakan. Berikut beberapa perspektif untuk membacanya secara lebih tajam. 1. Perspektif Strategi Bisnis Dalam strategi, uang adalah indikator, bukan arah. Jika tujuan langsung adalah uang, keputusan cenderung jangka pendek, oportunistik, dan reaktif. Namun bila tujuan dialihkan pada penguatan sistem, kualitas layanan, atau reputasi, maka organisasi sedang membangun keunggulan struktural. Dalam fase tertentu, terutama ketika pasar tidak stabil, bertahan hidup lebih rasional daripada mengejar margin. Maknanya: fokus pada daya tahan sebelum ekspansi. 2. Perspektif Akuntansi Manajerial Secara akuntansi, tujuan bukan uang berarti pergeseran dari profit maximization ke cost control dan cash flow stability . Perusahaan mungkin menahan ekspansi, mengurangi risiko, memperketat standar biaya, dan menolak proyek berisiko tinggi meski menjanjikan keuntungan besar. ...
Abstrak Artikel ini merumuskan model konseptual “Manajemen Anti-Talbis” sebagai sintesis antara tata kelola modern dan kritik moral-epistemik klasik dalam Talbis Iblis karya Ibn al-Jawzi . Penelitian ini berangkat dari asumsi bahwa efektivitas struktural organisasi tidak secara otomatis menjamin integritas moral dan kemurnian orientasi. Literatur manajemen modern menekankan kontrol, standar mutu, dan audit kinerja, sementara Talbis Iblis menyoroti distorsi yang terselubung dalam praktik kepemimpinan dan institusi keagamaan. Dengan pendekatan kualitatif berbasis studi literatur dan analisis konseptual, artikel ini menghasilkan model empat pilar: governance struktural, penyelarasan tauhidik, audit moral sistemik, dan integritas kepemimpinan. Model ini berkontribusi pada pengembangan tata kelola organisasi keagamaan dan pendidikan agar terhindar dari formalisme mutu dan kemunafikan manajerial. Kata kunci: governance, talbis, manajemen mutu, integritas organisasi, etika kepemimpinan ...

Manajemen Anti Talbis

Model Manajemen Anti-Talbis Model Manajemen Anti-Talbis Integrasi Tata Kelola Modern dan Kritik Epistemik Abstrak. Artikel ini merumuskan model konseptual Manajemen Anti-Talbis sebagai sintesis antara tata kelola modern dan kritik moral klasik. Model ini mengintegrasikan governance struktural, penyelarasan tauhidik, audit moral sistemik, dan integritas kepemimpinan untuk mencegah formalisme mutu dan kemunafikan manajerial dalam organisasi pendidikan dan keagamaan. 1. Pendahuluan Manajemen modern menekankan sistem, prosedur, audit, dan pengendalian mutu. Namun efektivitas struktural tidak otomatis menjamin integritas moral. Dalam praktik organisasi, penyimpangan sering muncul bukan dalam bentuk pelanggaran terbuka, tetapi dalam bentuk distorsi niat dan orientasi. 2. Kerangka Konseptual Model Manajemen Anti-Talbis dibangun atas empat pilar utama yang saling menopang. Pilar-pilar ini menggabungkan sistem administratif dan pengawasan moral secara simultan. MA...

Talbis Iblis dalam Pendidikan dan Sekolah (Bedah Praktis)

  Dalam konteks pendidikan, talbis tidak muncul sebagai kejahatan terang, melainkan sebagai distorsi niat, proses, dan tujuan belajar . Sistem tetap berjalan, tetapi ruhnya bergeser. Ibnu Jauzi menjelaskan bahwa setan sering merusak melalui hal yang tampak benar. Sekolah adalah lahan subur karena di sana ada otoritas, ambisi, tekanan sosial, dan simbol kebaikan. 1) Pergeseran tujuan: ilmu → nilai → status Tujuan asli pendidikan: memahami kebenaran dan membentuk akhlak. Talbis mengubahnya menjadi: mengejar angka ranking sertifikat citra “murid pintar” Akibatnya: Belajar berhenti saat ujian selesai. Contoh sehari-hari: Menghafal tanpa memahami Mencontek demi nilai Memilih jurusan karena gengsi, bukan kemampuan Orang tua bangga pada rapor, bukan karakter 2) Otoritas guru tanpa keteladanan Talbis pada pendidik muncul saat posisi dijadikan alat dominasi, bukan amanah. Bentuknya: Mengajar tanpa niat membimbing Menggunakan ketakutan sebagai alat kontrol Menuntut hormat tanpa memberi telad...

Infografis: Keputusan Transaksi tanpa Verifikasi

Gambar
 

S1 Manajemen bagi Perempuan Usia 30 dan 40 Tahun: Membangun Arsitektur Kendali atas Hidup dan Usaha

Gambar
Ada pertanyaan yang sering muncul dengan nada meremehkan: untuk apa perempuan usia 30 atau 40 tahun kuliah S1 Manajemen. Seolah pendidikan hanya relevan bagi mereka yang baru lulus SMA dan sedang berburu kursi karyawan. Cara berpikir ini keliru sejak premis pertama. Ia mengasumsikan bahwa nilai pendidikan ditentukan oleh peluang diterima perusahaan, bukan oleh kapasitas berpikir yang dibangun. Kurikulum S1 Manajemen bukan sekadar kumpulan mata kuliah. Ia adalah konstruksi bertahap untuk membentuk arsitektur nalar. Pada semester awal, mahasiswa berhadapan dengan Manajemen, Pengantar Bisnis, Organisasi, Akuntansi, Ekonomi Mikro dan Makro, Matematika Ekonomi. Di titik ini yang dibangun bukan keahlian teknis, tetapi kerangka berpikir sistemik. Seorang perempuan usia 30 atau 40 tahun yang telah menjalani peran sebagai istri, ibu, pelaku usaha, atau pekerja, akan membaca mata kuliah ini dengan perspektif berbeda. Ia tidak lagi belajar konsep abstrak. Ia sedang menamai ulang pengalaman hidupn...