Riba, Kebutuhan, dan Ilusi Pembenaran
Catatan tentang Batas Tanggung Jawab Keluarga Salah satu kekeliruan paling lazim dalam diskursus keagamaan sehari-hari adalah anggapan bahwa kebutuhan dapat mengubah larangan menjadi kebolehan. Di titik inilah riba sering menemukan pembelaannya. Bukan melalui dalil, tetapi melalui narasi empati yang keliru. Pinjaman berbunga untuk sewa rumah kerap dianggap sebagai keharusan hidup. Logikanya sederhana: tempat tinggal adalah kebutuhan dasar, maka cara apa pun menjadi sah. Masalahnya, agama tidak bekerja dengan logika darurat yang longgar. Dalam fikih, darurat adalah kondisi sempit, terukur, dan sementara . Ia bukan sekadar kesulitan ekonomi, apalagi keterbatasan gaya hidup. Mayoritas ulama sepakat bahwa riba tetap haram meskipun dilakukan atas nama kebutuhan, selama masih ada alternatif, sekalipun pahit. Di sinilah agama menempatkan ujian, bukan pada kemudahan, tetapi pada pilihan sadar ketika jalan halal terasa berat. Namun persoalan menjadi lebih kompleks...