Gedungnya Tinggi, Tapi Upah Teknisi Tak Sampai Dasar
๐งฑ “Gedungnya Tinggi, Tapi Upah Teknisi Tak Sampai Dasar”
Di gedung yang menjulang,
seringkali teknisi hanya jadi pelengkap —
dibutuhkan saat genting, dilupakan saat gaji ditentukan.
Brand dikuatkan, spanduk diperbarui,
tapi upah teknisi stagnan, meski kerja mereka menopang reputasi.
Ironi itu nyata:
yang menyolder di ruang panas,
yang menahan panas asap timah,
yang menganalisis jalur IC dengan mikroskop murahan,
justru sering tidak dianggap sebagai fondasi.
Padahal:
- Gedung tak bisa mendiagnosis BIOS rusak.
- Spanduk tak bisa membedakan charger asli dan KW.
- AC dingin tak mengajari pelanggan soal voltage drop.
Yang bisa?
Teknisi.
Yang dibina, bukan dibinasakan oleh sistem.
๐ Refleksi
Jika sebuah service center bisa membangun gedung mewah,
tapi tak mampu memberikan upah layak bagi teknisinya,
maka mungkin yang sedang dibangun bukan kejayaan —
melainkan jebakan moral.
Komentar
Posting Komentar