pulang sebelum mati

Ia menyebutnya patah hati.
Istilah yang aman.
Tidak menuntut penjelasan,
tidak mengundang penghakiman.
Kepada kawan, ceritanya singkat:
tidak berjodoh, tidak sejalan, tidak jadi apa-apa.
Remah yang mudah ditelan.
Gagal yang wajar.
Tak ada yang perlu dicurigai.
Padahal yang runtuh bukan hubungan,
melainkan arah batin.
Bukan karena ditinggalkan,
tetapi karena berhenti berharap
pada sesuatu yang terlalu lama
dibiarkan menempati ruang kosong.
Ia tidak menangis keras.
Tidak pula marah.
Hanya lelah yang tak pandai bicara.
Seperti seseorang yang baru sadar
ia berjalan jauh
dengan peta yang keliru.
Ia sempat menyalahkan diri
sendiri. merasa bodoh dan berlebihan.
Namun rasa sakit itu tidak gaduh.
Ia bekerja per-lahan—
membersihkan.
Mengikis kebutuhan untuk diakui,
untuk dibalas, untuk dipilih.
Dari luar, semuanya tampak biasa:
diam lebih panjang,
tawa lebih hemat,
perhatian ditarik pelan-pelan.
Tak ada doa khusus.
Tak ada istilah besar.
Hanya kebiasaan lama
yang gugur satu per satu.
Yang tak terlihat adalah pergeseran kecil di dalam:
ia berhenti menggantungkan makna
pada respon manusia.
Menerima bahwa
tidak setiap kekosongan
perlu diisi oleh orang.
Dan ketika ia akhirnya baik-baik saja,
tak ada yang tahu
apa yang sebenarnya selesai.
Orang mengira ia telah beranjak.
Padahal yang terjadi lebih sunyi:
ia berhenti menaruh harap
di tempat yang keliru.
Jika ini disebut patah hati, biarlah.
Nama itu cukup aman
untuk menyamarkan kenyataan
bahwa ada bagian dirinya
yang pulang
tanpa perlu diumumkan.








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Program Pelatihan Servis Laptop – Praktis dan Siap Kerja

๐Ÿ“ข Lowongan Kerja: Asisten Teknisi Laptop – Mataram IT

[CLOSED] Lowongan Kerja di Mataram IT – Penjaga Bengkel & Kurir [selesai]