Empatbelas tahun pernikahan (1:4)
Sebelas Januari bukan untuk unjuk Gigi.
Gingsul itu tidak berkorban untuk panggung; ia ikut membongkar malam dengan tangan, menukar suara dengan alat — bukan demi wujud sempurna, melainkan agar mesin tetap hidup, dan napas tidak salah hitung.
Empat cahaya menyala seperti petugas kecil di ruang tamu: satu menempel pada meja belajar, satu menaruh luka kecil di lutut, satu menahan suara agar ibu bisa menata piring, yang terakhir tertidur memeluk bantal seperti pegangan pada kapal. Mereka datang tanpa puisi. Adalah urutan gerak yang mustahil diulang oleh kata.
Kepergian-kepergian itu meninggalkan museum benda-benda yang berbicara: lemari yang masih dingin, kursi kayu yang hangat, selimut yang menggugat kebiasaan, jam dinding yang menimbang tiap detik seperti orang yang tak percaya lagi pada kebohongan waktu. Sunyi tiba bukan sebagai hening yang suci, melainkan sebagai tamu yang mengerjakan tugasnya menutup laci, membiarkan cangkir bergetar sedikit, menurunkan suara sampai hanya tersisa gema yang tertahan di tenggorokan.
Bukan pujian yang menahan roda, melainkan ketepatan: langkah yang cukup akurat agar perjalanan tidak berakhir di tengah jalan.
Keindahan adalah kemungkinan; presisi adalah prasyarat.
Pada akhirnya kita akan sepakat, bahwa cinta tanpa Logika adalah sebuah metafora dusta
Komentar
Posting Komentar