Ketika “Ahli” Hanya Menjadi Perantara: Risiko Tersembunyi di Balik Servis Laptop
Di lapangan, kami sering menerima unit yang sudah “berkeliling”.
Bukan karena rusaknya berat sejak awal, tetapi karena salah ditangani oleh orang yang berpura-pura paham.
Polanya berulang.
Ada individu—entah punya toko atau tidak—yang tampil meyakinkan di depan konsumen. Ia menyebut diri ahli. Ia menjanjikan solusi. Namun faktanya, ia tidak memperbaiki apa pun. Unit hanya dilempar dari satu tempat ke tempat lain, dimulai dari yang termurah. Jika gagal, pindah lagi. Jika rusak makin parah, barulah unit dibawa ke bengkel yang lebih serius.
Di titik ini, konsumen sudah rugi dua kali:
uang keluar, dan kondisi unit memburuk.
Masalah utamanya bukan soal salah pilih bengkel.
Masalahnya adalah penipuan peran.
Bukan Semua Perantara Itu Salah
Dalam dunia jasa, perantara itu sah. Yang bermasalah adalah perantara yang menyamar sebagai ahli.
Ada perbedaan mendasar antara:
– Teknisi: bekerja langsung dan bertanggung jawab atas eksekusinya.
– Kurator: tidak selalu mengerjakan, tetapi menilai, mengarahkan, menguji, dan menanggung hasil.
– Makelar jujur: hanya mempertemukan, dan menyatakan sejak awal bahwa ia tidak menjamin hasil.
Yang sering terjadi di lapangan adalah jenis keempat:
makelar yang mengaku teknisi.
Di sinilah konsumen tertipu tanpa sadar.
Dampak Nyata ke Unit Anda
Setiap kali laptop dicoba-coba:
– jalur bisa rusak karena panas berulang,
– IC bisa berpindah tangan tanpa dokumentasi,
– diagnosis menjadi kabur,
– risiko gagal meningkat drastis.
Yang Anda terima di akhir bukan “belum sempat benar”, tapi sudah terlanjur rusak sebagian.
Posisi Etika: Siapa Bertanggung Jawab?
Dalam muamalah dan etika bisnis, keuntungan yang halal hanya lahir dari tanggung jawab yang nyata. Prinsip ini ditegaskan dalam Harta Haram Muamalat Kontemporer:
yang dilarang bukan kerja sama, tetapi penyamaran, ketidakjelasan, dan pemindahan risiko sepihak.
Jika seseorang:
– mengaku ahli padahal tidak,
– tidak menjelaskan ke mana unit dibawa,
– tidak menanggung risiko saat gagal,
maka itu bukan sekadar tidak profesional. Itu cacat amanah.
Edukasi untuk Konsumen
Sebelum menyerahkan unit, tanyakan tiga hal sederhana:
Siapa yang bertanggung jawab jika gagal?
Apakah unit akan dikerjakan di sini atau dikirim ke tempat lain?
Apakah ada QC sebelum unit dikembalikan?
Jika jawabannya mengambang, berhati-hatilah.
Catatan untuk Pelaku Usaha
Jika Anda hanya perantara, jujurlah sebagai perantara.
Jika Anda ingin mengambil margin lebih, naikkan kelas tanggung jawab: pahami teknis dasar, lakukan QC, dan berdirilah di depan saat ada masalah.
Yang tidak boleh adalah berdiri di depan saat berhasil, lalu menghilang saat gagal.
Penutup
Servis laptop bukan soal siapa paling cepat atau paling murah.
Ia soal siapa yang berani memikul akibat dari setiap keputusan.
Nama boleh tidak dikenal.
Tangan boleh tidak menyentuh solder.
Tapi amanah tidak boleh dilempar.
Jika sebuah unit sampai ke bengkel kami setelah “dicoba-coba”, kami akan menyebutnya apa adanya: kasus bekas spekulasi.
Bukan untuk menyalahkan, tetapi agar konsumen tahu satu hal penting:
Kerusakan sering kali bukan terjadi di akhir,
melainkan di awal—saat kepercayaan diberikan kepada orang yang salah.
Komentar
Posting Komentar