Ketika Potongan Ceramah Menggantikan Kerja Berpikir
Kritik Budaya Dakwah Instan di YouTube
Ketika Potongan Ceramah Menggantikan Kerja Berpikir
YouTube telah mengubah cara umat mengonsumsi dakwah. Bukan lagi melalui proses belajar yang bertahap, melainkan melalui potongan video singkat, judul provokatif, dan kesimpulan cepat. Di titik inilah masalah dimulai.
Dakwah yang semestinya membangun kerangka berpikir berubah menjadi produksi reaksi. Bukan untuk dipahami, melainkan untuk segera disetujui atau ditolak. Budaya ini melahirkan generasi pendengar yang hafal kutipan, tetapi miskin metodologi.
Kasus Berulang: Ceramah Ustadz Erwandi Tarmizi
Ceramah Ustadz Erwandi Tarmizi sering dijadikan contoh untuk menuduh adanya dakwah yang keras dan tidak empatik. Potongan kalimat seperti “riba tetap riba” atau “tidak ada alasan darurat” diputar berulang, dipisahkan dari konteks, lalu disimpulkan sebagai vonis final.
Pola salah pahamnya hampir selalu sama.
Pertama, pendengar datang dengan keputusan pribadi yang ingin dibenarkan. Ketika ceramah tidak memberi legitimasi, reaksi emosional muncul, lalu ditutup dengan tuduhan “tidak realistis” atau “tidak manusiawi”.
Kedua, ceramah lisan diperlakukan seolah-olah ia adalah kitab fikih. Padahal ceramah adalah komunikasi situasional, bukan karya akademik. Ia tidak dirancang untuk memuat seluruh syarat, pengecualian, dan cabang hukum.
Ketiga, tidak ada usaha lanjutan untuk membaca karya tulisnya. Buku dianggap berat, terlalu panjang, atau tidak praktis. Akhirnya, yang dijadikan dasar penilaian hanyalah potongan video, bukan kerangka keilmuan.
Masalah Utamanya Bukan pada Penceramah
Masalah utamanya bukan pada gaya bicara ustadz. Masalahnya ada pada budaya dakwah instan itu sendiri. YouTube mendorong kecepatan, bukan kedalaman. Algoritma tidak menghargai kehati-hatian, tetapi ketegasan yang mudah dipotong.
Dalam sistem seperti ini, penceramah dipaksa memilih. Berbicara tegas agar pesan tidak tenggelam, atau berbicara hati-hati dan tidak didengar. Pilihan ini bukan ideal, tetapi realistis dalam ekosistem digital.
Empati Palsu dan Fikih yang Dilunakkan
Budaya dakwah instan juga melahirkan fenomena lain, yaitu empati palsu. Segala kesulitan hidup dijadikan alasan untuk melunakkan hukum, tanpa melalui analisis akad, sebab, dan batasan.
Dalam kondisi seperti ini, ketegasan justru diperlukan untuk mematahkan ilusi. Bukan untuk menghakimi pelaku, tetapi untuk menghentikan normalisasi kesalahan.
Ironisnya, ketegasan inilah yang kemudian diserang sebagai tidak empatik, padahal yang terjadi adalah benturan antara disiplin ilmu dan budaya serba maklum.
Dakwah yang Dipotong Akan Selalu Tampak Kejam
Setiap pemikiran yang dipotong dari kerangkanya akan terlihat ekstrem. Ini bukan masalah agama, melainkan masalah cara belajar.
Orang yang hanya hidup dari potongan ceramah akan selalu kecewa ketika berhadapan dengan batas. Bukan karena batas itu salah, tetapi karena ia tidak pernah belajar bagaimana batas itu dibangun.
Penutup
Dakwah bukan konsumsi cepat. Ia kerja panjang. Ia menuntut kesabaran, kerendahan hati, dan kesediaan membaca lebih dari satu potongan video.
Selama budaya dakwah instan dipelihara, kesalahpahaman akan terus berulang. Bukan hanya terhadap satu ustadz, tetapi terhadap agama itu sendiri.
Masalahnya bukan pada suara yang keras. Masalahnya pada telinga yang enggan belajar mendengar secara utuh.
Komentar
Posting Komentar