Yusuf Mansur: Anomali atau Modus
Memahami Yusuf Mansur
Anomali atau Modus
Nama :contentReference[oaicite:0]{index=0} selalu memicu polarisasi. Sebagian melihatnya sebagai pendakwah yang memberi harapan. Sebagian lain menilainya sebagai simbol problem dakwah populer di era digital. Pertanyaannya bukan soal suka atau tidak suka, melainkan apakah fenomena ini sebuah anomali yang tidak disengaja, atau sebuah modus yang bekerja sistematis.
Anomali dalam Tradisi Keilmuan
Jika diukur dengan standar tradisi keilmuan Islam, fenomena Yusuf Mansur adalah anomali. Ia tidak dikenal melalui karya ilmiah, tidak melalui jalur pengajaran fikih berlapis, dan tidak membangun otoritas lewat disiplin metodologis. Pesannya berputar pada satu poros narasi, yaitu sedekah sebagai kunci penyelesaian masalah hidup.
Dalam tradisi ilmu, sedekah adalah ibadah. Ia tidak pernah dijanjikan sebagai mekanisme sebab-akibat yang deterministik. Ketika sedekah dipresentasikan sebagai formula cepat untuk rezeki, utang, dan kesuksesan, terjadi penyempitan makna. Inilah anomali pertama.
Dari Anomali ke Pola yang Berulang
Namun anomali yang berulang dan konsisten perlahan berhenti menjadi kebetulan. Ia berubah menjadi pola. Di titik ini, pertanyaan tentang modus menjadi sah.
Pola yang tampak berulang antara lain:
- Testimoni personal dijadikan argumen utama.
- Emosi harapan didahulukan daripada kerangka sebab.
- Kegagalan individu dipulangkan sebagai kurang iman atau kurang sedekah.
- Akuntabilitas finansial dipinggirkan oleh narasi spiritual.
Pola ini tidak netral. Ia memindahkan beban kegagalan dari sistem dan pengelola kepada jamaah. Secara epistemik, ini bermasalah.
Dakwah atau Motivasi Spiritual
Masalah utama bukan pada ajakan bersedekah, melainkan pada cara ia dibingkai. Ketika dakwah bergeser menjadi motivasi spiritual, fungsi ilmu berubah. Ia tidak lagi membimbing keputusan, tetapi memicu dorongan.
Di sinilah banyak orang terjebak. Apa yang terasa menguatkan di awal sering berakhir sebagai kekecewaan yang dipersonalisasi. Bukan karena hidup selalu buruk, tetapi karena ekspektasi dibangun di atas janji implisit yang tidak pernah dijamin agama.
Masalah Akuntabilitas
Setiap aktivitas yang mengelola dana publik memerlukan akuntabilitas. Dalam dakwah populer, sering muncul ilusi bahwa niat baik cukup sebagai pengganti sistem. Ini keliru. Niat tidak menggugurkan kewajiban transparansi.
Ketika kritik diarahkan, ia kerap dibalas dengan narasi niat, ujian, atau prasangka buruk. Ini adalah pola defensif, bukan klarifikasi substantif. Dan pola defensif yang berulang bukan lagi anomali.
Anomali atau Modus
Jawaban paling jujur mungkin tidak hitam putih. Fenomena ini bisa bermula sebagai anomali, lalu bertransformasi menjadi modus ketika pola yang sama terus dipertahankan meskipun kritik rasional telah disampaikan.
Yang bermasalah bukan sosoknya semata, melainkan ekosistem yang mengizinkan dakwah lepas dari disiplin ilmu dan akuntabilitas publik. Dalam ekosistem seperti itu, emosi selalu menang atas nalar.
Penutup
Memahami Yusuf Mansur bukan soal menjatuhkan individu. Ini soal membaca gejala. Ketika agama direduksi menjadi alat pemicu harapan cepat, ia kehilangan fungsi pendidiknya.
Agama tidak menjanjikan hidup mudah. Ia menjanjikan arah. Setiap dakwah yang menukar arah dengan janji perlu dikritik, bukan karena kebencian, tetapi karena tanggung jawab intelektual.
Komentar
Posting Komentar