Mengapa Ceramah Ustadz Erwandi Tarmizi Sering Disalahpahami
Antara Ketegasan Lisan dan Presisi Ilmiah
Nama Ustadz Erwandi Tarmizi kerap muncul dalam perdebatan publik tentang riba dan muamalat. Di satu sisi, ceramah beliau di YouTube dianggap keras, kaku, bahkan tidak empatik. Di sisi lain, karya tulis beliau justru dipakai sebagai rujukan akademik yang tenang dan sistematis. Banyak orang mengira ini kontradiksi. Padahal yang terjadi bukan pertentangan isi, melainkan perbedaan medium dan fungsi komunikasi.
YouTube Bukan Ruang Fikih Akademik
Ceramah YouTube bekerja di ruang lisan yang cepat, reaktif, dan sarat pembenaran spontan. Audiens datang bukan membawa kerangka ilmu, tetapi membawa keputusan yang ingin dilegitimasi. Dalam konteks ini, gaya bicara Ustadz Erwandi bersifat memutus, bukan mengurai.
Kalimat seperti “riba tetap riba” sering diucapkan tanpa penjelasan panjang. Ini bukan karena penyempitan hukum, melainkan strategi pedagogis. Tujuannya menghentikan rasionalisasi sejak awal. Ceramah berfungsi sebagai rem darurat, bukan peta lengkap.
Buku Bekerja di Medan yang Berbeda
Dalam buku-bukunya, pendekatan yang dipakai sepenuhnya berbeda. Pembahasan disusun sistematis, berlapis, dan dingin secara nalar. Risiko dibedakan dari gharar. Niat dipisahkan dari akad. Status hukum tidak dicampur dengan empati sosial.
Buku tidak bertujuan memukul kesadaran, melainkan memaksa pembaca berpikir dan menimbang. Ia tidak cocok dibaca cepat, apalagi dipotong.
Kesalahan Umum Publik
Kesalahan paling sering adalah menilai ceramah YouTube seolah-olah ia adalah rumusan fikih final. Ini kekeliruan metodologis. Sama kelirunya dengan mengambil satu paragraf buku hukum lalu mengabaikan keseluruhan bab.
Ceramah dan buku bukan dua posisi hukum yang bertentangan. Keduanya adalah dua lapis komunikasi dari kerangka yang sama. Ceramah menutup pintu pembenaran. Buku menjelaskan mengapa pintu itu ditutup dan di mana batas pengecualiannya.
Nada Keras Bukan Berarti Fikih Sempit
Nada keras sering disalahartikan sebagai kekakuan. Padahal dalam tradisi keilmuan, ketegasan lisan sering dipakai untuk melawan budaya pembenaran, bukan untuk meniadakan rahmat hukum.
Masalah umat hari ini bukan kekurangan empati, melainkan kelebihan dalih. Dalam kondisi seperti itu, bahasa yang lunak justru sering gagal mendidik.
Jika Ceramah Dibuat Seperti Buku
Jika ceramah disampaikan dengan gaya buku, ia akan panjang, penuh syarat, dan gagal menghentikan pembenaran spontan.
Sebaliknya, jika buku ditulis dengan gaya ceramah, ia akan runtuh secara ilmiah.
Medium menentukan gaya. Gaya tidak mengubah substansi.
Penutup
Masalahnya bukan pada Ustadz Erwandi Tarmizi, melainkan pada budaya konsumsi ilmu yang serba cepat. Mendengar sepotong, menyimpulkan seketika, lalu menilai hukum dan karakter sekaligus.
Siapa yang hanya menonton ceramah akan melihat ketegasan. Siapa yang membaca buku akan menemukan kedalaman. Siapa yang menggabungkan keduanya akan memahami bahwa ketegasan lisan adalah pagar, bukan vonis buta.
Agama tidak rusak karena ketegasan. Ia rusak ketika ketegasan dipahami tanpa ilmu.
Komentar
Posting Komentar