Mengapa tarif ganti thermal paste bisa sangat berbeda
Banyak orang bertanya mengapa tarif ganti thermal paste di satu tempat bisa Rp100 ribu, sementara di tempat lain jauh lebih tinggi. Pertanyaan itu wajar. Namun jawabannya tidak sesederhana “beda harga”.
Yang sering dibandingkan hanyalah nama pekerjaannya, bukan isi dan bobot kerjanya.
Di banyak bengkel, ganti thermal paste dipahami sebagai pekerjaan cepat: bongkar, oles, pasang kembali. Fokusnya unit hidup dan terasa lebih dingin sesaat. Tidak ada pembacaan kondisi sistem termal, tidak ada pengujian suhu pasca-rakit, dan tidak ada tanggung jawab teknis jika gejala baru muncul di hari-hari berikutnya. Pekerjaan selesai ketika obeng diletakkan.
Fakta lapangan yang kami temui justru berbicara sebaliknya. Sebagian signifikan unit yang masuk ke bengkel kami adalah laptop yang baru saja diganti thermal paste di tempat lain, namun kembali mengalami panas berlebih, throttle, mati mendadak, atau kipas bekerja tidak wajar. Saat dibongkar ulang, kami mendapati pola yang berulang: pasta berlebih atau justru kurang, heatsink tidak duduk rata, sekrup tekanan tidak merata, kipas kotor tidak dibersihkan, bahkan thermal pad bergeser tanpa disadari. Secara kasat mata pekerjaan “sudah dilakukan”, tetapi secara sistem panasnya belum pernah dikelola.
Di level kerja kami, thermal paste bukan kosmetik. Ia adalah bagian dari manajemen panas sistem. Yang dibaca bukan hanya pastanya, tetapi kondisi heatsink, tekanan dudukan, jalur udara, kipas, usia unit, hingga pola beban kerja pemiliknya. Unit tidak dianggap selesai sebelum suhu idle dan suhu beban berada di batas yang bisa dipertanggungjawabkan secara teknis.
Di sinilah perbedaan kelas kerja itu nyata. Dan karena itu, tarif tidak bisa disamakan.
Tarif Rp100 ribu–Rp200 ribu wajar untuk pekerjaan cepat dengan risiko minimal, tanpa analisis mendalam, dan tanpa tanggung jawab lanjutan. Namun ketika pekerjaan melibatkan pembongkaran menyeluruh, kontrol prosedur, pengujian suhu, dan risiko teknis yang ditanggung teknisi, maka nilainya berada di kelas berbeda.
Struktur tarif kami mencerminkan realitas tersebut.
Untuk laptop kelas harian atau unit lama, tarif berada di kisaran Rp300.000–Rp400.000.
Untuk unit dengan risiko tambahan—kabel rapuh, desain pendingin buruk, atau riwayat bongkar sebelumnya—tarif berada di Rp400.000–Rp600.000.
Untuk laptop performa tinggi atau gaming, tarif berada di Rp700.000–Rp900.000, karena konsekuensi panas, risiko kesalahan, dan tanggung jawab teknisnya jauh lebih besar.
Harga tersebut mencakup pembongkaran menyeluruh, pembersihan sistem pendingin, aplikasi thermal paste dengan metode yang tepat, perakitan rapi, dan pengujian suhu yang nyata. Bukan sekadar “oles ulang”.
Kami tidak menjual janji “pasti dingin selamanya”. Janji seperti itu tidak jujur terhadap sifat elektronik. Yang kami jual adalah proses yang benar, transparan, dan bisa dijelaskan secara teknis sejak awal, termasuk risikonya.
Murah bukan selalu salah.
Mahal bukan selalu berlebihan.
Namun pengalaman lapangan menunjukkan satu hal yang konsisten: pekerjaan cepat sering berujung pekerjaan ulang. Dan di titik itulah perbedaan nilai kerja menjadi terang—bukan dari kata-kata, melainkan dari unit yang kembali panas atau justru akhirnya stabil.
Yang keliru adalah menyamakan pekerjaan yang tampak serupa, padahal beban pikir, risiko, dan tanggung jawabnya tidak setara. Tarif mencerminkan cara berpikir dan risiko yang kami tanggung—bukan sekadar bahan yang dipakai.
Dan di situlah perbedaannya.
Komentar
Posting Komentar