Abstrak
Artikel ini merumuskan model konseptual “Manajemen Anti-Talbis” sebagai sintesis antara tata kelola modern dan kritik moral-epistemik klasik dalam Talbis Iblis karya Ibn al-Jawzi. Penelitian ini berangkat dari asumsi bahwa efektivitas struktural organisasi tidak secara otomatis menjamin integritas moral dan kemurnian orientasi. Literatur manajemen modern menekankan kontrol, standar mutu, dan audit kinerja, sementara Talbis Iblis menyoroti distorsi yang terselubung dalam praktik kepemimpinan dan institusi keagamaan. Dengan pendekatan kualitatif berbasis studi literatur dan analisis konseptual, artikel ini menghasilkan model empat pilar: governance struktural, penyelarasan tauhidik, audit moral sistemik, dan integritas kepemimpinan. Model ini berkontribusi pada pengembangan tata kelola organisasi keagamaan dan pendidikan agar terhindar dari formalisme mutu dan kemunafikan manajerial.
Kata kunci: governance, talbis, manajemen mutu, integritas organisasi, etika kepemimpinan
-
Pendahuluan
Dalam dua dekade terakhir, pendekatan manajemen berbasis standar mutu semakin dominan dalam organisasi pendidikan dan lembaga keagamaan. Standar seperti ISO 9001:2015 menekankan dokumentasi proses, audit internal, serta perbaikan berkelanjutan. Secara administratif, pendekatan ini meningkatkan konsistensi dan akuntabilitas.
Namun, literatur governance juga mengakui risiko symbolic compliance, yakni kepatuhan formal terhadap prosedur tanpa internalisasi nilai etis (Drucker, 2006). Dalam tradisi intelektual Islam, kritik terhadap penyimpangan moral yang terselubung telah dibahas secara mendalam dalam Talbis Iblis karya Ibn al-Jawzi. Ia menunjukkan bahwa distorsi dapat menyusup melalui legitimasi normatif dan retorika kesalehan.
Permasalahan penelitian ini adalah: bagaimana mengintegrasikan tata kelola modern dengan mekanisme pencegahan distorsi moral agar organisasi tidak terjebak dalam formalisme struktural?
Tujuan artikel ini adalah merumuskan model tata kelola integratif yang menggabungkan sistem manajemen modern dengan kritik epistemik klasik.
-
Tinjauan Pustaka
2.1 Manajemen dan Governance
Henri Fayol mengemukakan fungsi manajemen: planning, organizing, commanding, coordinating, dan controlling (Fayol, 1949). Dalam perkembangan modern, governance memperluas fungsi ini melalui prinsip transparansi, akuntabilitas, dan manajemen risiko.
ISO 9001 sebagai standar sistem manajemen mutu menekankan pendekatan berbasis proses, pengendalian risiko, dan continuous improvement (ISO, 2015). Namun standar ini bersifat prosedural dan tidak secara eksplisit mengatur dimensi moral niat organisasi.
2.2 Kritik Talbis
Talbis Iblis menganalisis bagaimana penyimpangan dapat muncul dalam ilmu, kepemimpinan, dan ibadah ketika motivasi bergeser dari keikhlasan menuju kepentingan duniawi (Ibn al-Jawzi, n.d.). Talbis bukan sekadar kesalahan operasional, tetapi distorsi kesadaran.
2.3 Fondasi Teologis
Dalam al-Aqidah al-Wasitiyyah, Ibn Taymiyyah menegaskan konsistensi antara keyakinan dan praktik sebagai fondasi integritas. Kerangka ini menyediakan basis normatif bagi tata kelola berbasis amanah.
-
Metodologi
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode:
-
Analisis teks klasik Talbis Iblis untuk mengidentifikasi pola distorsi.
-
Kajian literatur manajemen dan governance kontemporer.
-
Analisis komparatif normatif antara struktur manajemen dan kritik moral.
-
Formulasi model konseptual berbasis sintesis teoretis.
Pendekatan ini bersifat konseptual-normatif dan bertujuan menghasilkan kerangka teoritis, bukan pengujian empiris.
-
Hasil dan Pembahasan
4.1 Konseptualisasi Talbis Organisasi
Dalam konteks organisasi, talbis dapat didefinisikan sebagai kondisi ketika sistem administratif berjalan sesuai prosedur, namun orientasi moralnya menyimpang. Fenomena ini dapat berupa:
-
Manipulasi data demi citra mutu.
-
Retorika integritas tanpa transparansi.
-
Sertifikasi yang dijadikan tujuan, bukan sarana.
4.2 Model Manajemen Anti-Talbis
Model terdiri atas empat pilar:
-
Governance Struktural
Meliputi SOP terdokumentasi, audit internal, manajemen risiko, dan evaluasi kinerja. -
Penyelarasan Tauhidik
Visi dan kebijakan diuji melalui parameter amanah, kejujuran, dan tanggung jawab transendental. -
Audit Moral Sistemik
Selain audit administratif, dilakukan evaluasi motif kebijakan dan konsistensi nilai melalui forum muhasabah dan mekanisme koreksi internal. -
Integritas Kepemimpinan
Kepemimpinan diposisikan sebagai locus utama pengawasan. Transparansi, akuntabilitas personal, dan keterbukaan terhadap kritik menjadi indikator.
4.3 Kontribusi Teoretis
Model ini memperluas literatur governance dengan memasukkan dimensi teologis sebagai mekanisme pencegahan moral hazard. Ia menjembatani kesenjangan antara compliance struktural dan kejujuran substantif.
-
Implikasi
Bagi lembaga pendidikan dan organisasi keagamaan, model ini menawarkan:
-
Sistem audit ganda: administratif dan moral.
-
Indikator kinerja berbasis integritas.
-
Mekanisme evaluasi kepemimpinan berbasis amanah.
Tanpa integrasi ini, organisasi berisiko mengalami kemunafikan manajerial sistemik.
-
Kesimpulan
Manajemen modern menyediakan instrumen pengendalian struktural. Talbis Iblis menyediakan kritik terhadap distorsi moral yang terselubung. Integrasi keduanya menghasilkan model tata kelola yang tidak hanya efisien, tetapi juga jujur secara epistemik.
Keberhasilan organisasi tidak cukup diukur melalui KPI, tetapi melalui konsistensi antara sistem, niat, dan kepemimpinan. Tanpa pengawasan moral, sistem akan menjadi topeng. Tanpa sistem yang kuat, idealisme akan runtuh.
Daftar Pustaka (Format APA)
Drucker, P. F. (2006). Management: Tasks, responsibilities, practices. HarperCollins.
Fayol, H. (1949). General and industrial management. Pitman.
Ibn al-Jawzi. (n.d.). Talbis Iblis. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Ibn Taymiyyah. (n.d.). al-Aqidah al-Wasitiyyah.
International Organization for Standardization. (2015). ISO 9001: Quality management systems—Requirements.
Komentar
Posting Komentar