ChatGPT dan Ilusi Ketepatan: Ketika Kecerdasan Sosial Disalahartikan sebagai Kebenaran
Secara desain, ChatGPT tidak dibangun sebagai mesin verifikasi kebenaran yang kejam. Ia dirancang sebagai antarmuka sosial pengetahuan—ramah, inklusif, minim konflik. Prioritas utamanya adalah menjaga kelancaran dialog dan keterterimaan jawaban bagi mayoritas pengguna. Dengan kata lain, ia memilih aman sebelum tepat.
Pilihan ini bukan kesalahan teknis. Ia adalah keputusan arsitektural yang sadar. Dalam konteks penggunaan massal, konflik logis yang tajam meningkatkan resistensi pengguna. Koreksi keras sering dibaca sebagai sikap menyerang, bukan klarifikasi. Maka sistem diarahkan untuk memvalidasi framing, meredam kontradiksi, dan menutup diskusi dengan harmoni—even ketika persoalan inti belum tersentuh.
Akibatnya, koherensi naratif lebih diutamakan daripada ketepatan epistemik. Pernyataan yang kabur tidak otomatis ditolak. Reframing yang menyelamatkan ego dibiarkan lewat. Trade-off logis jarang dipaksa muncul ke permukaan. AI tidak secara default mengaudit inferensi pembaca; ia hanya memastikan jawaban terasa “masuk akal”.
Dalam ranah sosial, pendekatan ini efektif. Namun dalam ranah teknis—terutama diagnosis—ia berbahaya bila tidak disadari.
Bagi teknisi, khususnya di bidang servis laptop dan diagnosis hardware, perbedaan ini krusial. Tanpa prompt yang ketat dan konteks yang disiplin, ChatGPT akan berperan sebagai alat komunikasi, bukan alat diagnosis. Ia akan membantu merapikan keputusan, bukan mengujinya. Ia menurunkan ketegangan psikologis, tetapi juga menurunkan presisi analitis.
Di titik ini, kegagalan bukan terletak pada AI, melainkan pada ekspektasi pengguna. Banyak yang datang dengan asumsi bahwa kecerdasan buatan secara otomatis berarti kecerdasan epistemik. Padahal yang tersedia secara default adalah socially safe intelligence—kecerdasan yang pandai hidup berdampingan, bukan kecerdasan yang siap membongkar kesalahan.
Ironisnya, ketepatan menuntut sesuatu yang jarang disiapkan manusia: kehilangan. Kehilangan rasa benar, kehilangan narasi nyaman, kehilangan pembenaran diri. Karena itu, sistem dirancang mengikuti statistik psikologis mayoritas, bukan standar logika minoritas.
Di sinilah peran pengguna tingkat lanjut menjadi menentukan. Ketajaman epistemik ChatGPT bukan bawaan. Ia harus diminta secara eksplisit, dipaksa melalui prompt, dan dijaga dengan sikap curiga profesional. Tanpa itu, AI akan selalu memilih jalur yang paling dapat diterima—bukan yang paling akurat.
Dan dalam dunia teknis, hanya satu yang layak dijadikan pegangan.
Komentar
Posting Komentar