Untuk saat ini saya memang tidak mencari uang
Kalimat “saat ini tujuan kita bukan uang” tampak sederhana, tetapi maknanya berubah tergantung lensa yang digunakan. Berikut beberapa perspektif untuk membacanya secara lebih tajam.
1. Perspektif Strategi Bisnis
Dalam strategi, uang adalah indikator, bukan arah. Jika tujuan langsung adalah uang, keputusan cenderung jangka pendek, oportunistik, dan reaktif. Namun bila tujuan dialihkan pada penguatan sistem, kualitas layanan, atau reputasi, maka organisasi sedang membangun keunggulan struktural. Dalam fase tertentu, terutama ketika pasar tidak stabil, bertahan hidup lebih rasional daripada mengejar margin.
Maknanya: fokus pada daya tahan sebelum ekspansi.
2. Perspektif Akuntansi Manajerial
Secara akuntansi, tujuan bukan uang berarti pergeseran dari profit maximization ke cost control dan cash flow stability. Perusahaan mungkin menahan ekspansi, mengurangi risiko, memperketat standar biaya, dan menolak proyek berisiko tinggi meski menjanjikan keuntungan besar.
Maknanya: menjaga likuiditas lebih penting daripada mengejar laba nominal.
3. Perspektif Psikologi Organisasi
Jika tujuan hanya uang, motivasi karyawan menjadi transaksional. Ketika tujuan diperluas menjadi pertumbuhan kompetensi, kualitas, atau kebermanfaatan, muncul makna kerja. Kinerja yang berbasis makna cenderung lebih stabil daripada yang berbasis insentif semata.
Maknanya: energi kolektif dibangun oleh tujuan yang lebih dalam daripada angka.
4. Perspektif Etika dan Nilai
Tujuan bukan uang bisa dibaca sebagai penegasan bahwa nilai mendahului hasil. Kejujuran, standar mutu, dan integritas transaksi tidak dikorbankan demi keuntungan cepat. Dalam jangka panjang, integritas adalah aset tak berwujud yang menghasilkan keberlanjutan.
Maknanya: reputasi lebih mahal daripada keuntungan sesaat.
5. Perspektif Survival
Dalam fase krisis, tujuan utama adalah bertahan. Fokus pada efisiensi, pengendalian risiko, dan stabilitas tim. Pada tahap ini, pertumbuhan agresif justru berbahaya. Bertahan adalah strategi rasional, bukan sikap lemah.
Maknanya: hidup dulu, baru berkembang.
6. Perspektif Filosofis
Uang adalah alat tukar nilai, bukan nilai itu sendiri. Jika uang dijadikan tujuan akhir, orientasi menjadi dangkal. Namun jika uang diposisikan sebagai konsekuensi dari kualitas dan manfaat, arah menjadi lebih kokoh.
Maknanya: sebab lebih penting daripada akibat.
7. Perspektif Risiko
Ketika tujuan hanya uang, organisasi cenderung mengambil risiko yang tidak terukur. Ketika tujuan bergeser ke stabilitas dan pertumbuhan organik, manajemen risiko menjadi disiplin utama.
Maknanya: keberlanjutan lebih rasional daripada spekulasi.
Kalimat tersebut tidak berarti anti-uang. Uang tetap penting sebagai bahan bakar operasional. Namun uang tidak ditempatkan sebagai kompas. Kompasnya adalah sistem, kualitas, daya tahan, dan pertumbuhan yang terukur.
Jika fondasi kuat, uang datang sebagai konsekuensi. Jika fondasi lemah, uang yang datang pun tidak bertahan.
Dalam kerangka lembaga seperti pesantren, kalimat ini seharusnya dibaca sebagai reposisi prioritas: membangun sistem yang tahan uji, SDM yang lurus manhajnya, serta tata kelola yang terdokumentasi dan akuntabel. Uang akan mengikuti kualitas. Jika fondasi epistemik dan manajerial kokoh, arus kas akan stabil. Jika fondasi rapuh, sebanyak apa pun pemasukan hanya menunda krisis.
Kesimpulan tegas: Pernyataan “tujuan kita bukan uang” bukan anti-ekonomi. Ini adalah reposisi kompas. Dalam fase tertentu, keberlanjutan lebih penting daripada ekspansi. Dalam lembaga pendidikan, reputasi lebih mahal daripada margin. Dalam perspektif tauhid, nilai lebih tinggi daripada angka.
Komentar
Posting Komentar