Kritik atas Kesombongan yang Berubah Menjadi Kesombongan Baru
Ada paradoks yang jarang disadari dalam ruang publik modern. Seseorang berdiri mengecam kesombongan, tetapi cara mengecamnya justru menampilkan superioritas moral yang sama. Retorika berubah, posisi psikologis tetap. Yang berganti hanya topengnya.
Kesombongan klasik mudah dikenali. Ia berbicara dari ketinggian, menunjuk dengan jari, dan mengklaim kepemilikan atas kebenaran. Namun kesombongan generasi baru lebih halus. Ia datang dengan bahasa empati, menyebut diri “inklusif”, dan mengutuk orang lain karena merasa lebih benar. Ia tidak berkata, “Aku paling tahu.” Ia berkata, “Aku lebih sadar.”
Di sinilah ironi bekerja.
Mengkritik kesombongan berarti menempatkan diri sebagai pihak yang melihat lebih jernih. Itu sah. Namun ketika kritik berubah menjadi klaim bahwa diri sendiri telah melampaui kesalahan yang dikritik, struktur kesombongan yang sama sedang dibangun ulang. Hanya fondasinya yang diganti dengan istilah etis.
Masalahnya bukan pada kritik. Kritik adalah mekanisme koreksi sosial yang sehat. Tanpa kritik, standar runtuh. Tanpa standar, relasi menjadi kabur. Tetapi kritik memerlukan kesadaran reflektif bahwa pengkritik juga rentan terhadap bias dan keterbatasan.
Kesombongan baru biasanya lahir dari tiga hal.
Pertama, absolutisme moral. Seseorang tidak hanya menilai tindakan salah, tetapi menganggap dirinya berada di posisi kebal terhadap kesalahan serupa.
Kedua, narsisme intelektual. Kritik menjadi sarana memamerkan kecerdasan, bukan membenahi masalah. Fokusnya bergeser dari substansi menuju citra diri.
Ketiga, pengaburan relasi kuasa. Mengutuk dominasi sambil menciptakan dominasi baru melalui bahasa yang lebih canggih.
Fenomena ini terlihat jelas dalam diskusi daring. Orang menuduh orang lain arogan dengan nada yang merendahkan. Mereka mengecam penghakiman, tetapi melakukannya secara publik dan tajam. Mereka menuntut rendah hati, sambil menikmati posisi moral yang lebih tinggi.
Jika dicermati secara struktural, pola ini mengikuti logika sederhana:
Premis 1: Kesombongan adalah sikap merasa lebih tinggi dari orang lain.
Premis 2: Mengkritik kesombongan dengan cara merendahkan berarti menempatkan diri lebih tinggi.
Inferensi: Kritik tersebut mengandung struktur kesombongan yang sama.
Status: valid secara logika formal, jika premis kedua benar dalam konteks praktiknya.
Artinya, yang menentukan bukan isi kritik, melainkan cara dan posisi psikologis di baliknya.
Kerendahan hati bukan berarti menahan diri dari mengoreksi. Kerendahan hati berarti menyadari bahwa koreksi tidak menjadikan seseorang lebih suci dari yang dikoreksi. Kritik yang matang memisahkan evaluasi tindakan dari penghukuman identitas.
Ada perbedaan antara mengatakan, “Tindakan ini problematis,” dan mengatakan, “Engkau adalah masalah.” Perbedaan itu tipis, tetapi menentukan kualitas moral pembicaraan.
Dalam ruang profesional, fenomena ini bahkan lebih subtil. Gelar akademik, pengalaman, atau reputasi sering dipakai untuk menegur dengan legitimasi formal. Namun legitimasi administratif tidak otomatis identik dengan kedewasaan intelektual. Seseorang dapat memiliki otoritas tanpa memiliki kebijaksanaan.
Kesombongan lama mengandalkan kekuasaan.
Kesombongan baru mengandalkan citra moral.
Keduanya sama-sama menuntut pengakuan.
Jika kritik terhadap kesombongan ingin tetap bersih, ia harus mematuhi satu disiplin internal: bersedia mengaudit dirinya sendiri. Pertanyaan yang perlu diajukan sebelum menegur orang lain sederhana tetapi tidak nyaman: apakah kritik ini lahir dari kepedulian terhadap kebenaran, atau dari kebutuhan untuk merasa lebih benar.
Tanpa audit itu, kritik berubah menjadi panggung.
Dan ketika kritik menjadi panggung, kesombongan hanya berganti kostum.
Komentar
Posting Komentar