Mengapa kita memaksakan diri membeli baju lebaran

Lebaran telah bergeser dari momentum spiritual menjadi panggung simbolik. Baju baru berfungsi sebagai sinyal status. Dalam logika pemasaran modern, identitas dibeli melalui produk. Industri ritel memahami ini dengan sangat baik. Mereka tidak menjual kain. Mereka menjual rasa “pantas tampil”. Itu adalah konstruksi persepsi.

Kedua, ada dorongan sosial implisit. Norma kolektif membentuk ekspektasi: datang ke silaturahmi dengan pakaian lama dianggap kurang layak. Ini bukan aturan agama. Ini aturan budaya konsumtif. Tekanan ini halus, tetapi kuat. Orang membeli bukan karena butuh, tetapi karena takut dianggap kurang.

Ketiga, ada bias psikologis bernama present bias. Kepuasan hari ini terasa lebih nyata daripada risiko bulan depan. Otak manusia cenderung mendiskon masa depan. Maka macetnya arus kas bulan berikutnya terasa jauh, abstrak, dan bisa “dipikir nanti”.

Keempat, literasi keuangan rendah. Arus kas pribadi jarang diperlakukan seperti laporan manajemen. Dalam akuntansi manajemen, pengeluaran musiman harus dianggarkan dan disesuaikan dengan kapasitas likuiditas. Jika belanja Lebaran menyebabkan defisit bulan berikutnya, itu berarti perencanaan kas gagal. Bukan karena harga baju mahal, tetapi karena struktur keputusan lemah.

Kelima, sistem ekonomi memang dirancang untuk memicu siklus ini. Kampanye diskon Ramadhan, iklan bertema keluarga harmonis, influencer dengan busana seragam. Semua itu membangun narasi bahwa kebahagiaan harus divisualkan. Dan visualisasi itu mahal.

Hasil akhirnya sederhana: euforia sehari, tekanan tiga puluh hari.

Jika dilihat dari perspektif sistem informasi manajemen, arus kas rumah tangga seharusnya diperlakukan seperti siklus operasi. Pendapatan adalah input. Belanja adalah output. Jika output melebihi input tanpa cadangan, maka likuiditas terganggu. Buku tentang sistem informasi manajemen menjelaskan pentingnya pengendalian dan evaluasi kinerja sebagai fondasi stabilitas organisasi. Prinsip itu berlaku identik pada skala rumah tangga.

Masalahnya bukan pada membeli baju. Masalahnya pada keputusan yang tidak selaras dengan kapasitas finansial.

Lebaran seharusnya momentum penyucian, bukan perlombaan visual. Namun selama identitas dibangun lewat simbol eksternal, dan bukan substansi, maka siklus “pontang-panting” akan terus berulang.

Arus kas tidak pernah berbohong. Ia mencatat dengan dingin, tanpa kompromi emosional.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Program Pelatihan Servis Laptop – Praktis dan Siap Kerja

[CLOSED] Lowongan Kerja di Mataram IT – Penjaga Bengkel & Kurir [selesai]

๐Ÿ“ข Lowongan Kerja: Asisten Teknisi Laptop – Mataram IT