ketika orang bertanya, Anda aliran apa?
Ambiguitas “Aliran Islam”: Sebuah Catatan Filsafat Bahasa
Pertanyaan “Anda aliran Islam apa?” sering muncul dalam percakapan sehari-hari. Sekilas pertanyaan ini tampak sederhana dan langsung. Namun jika dilihat dari sudut pandang filsafat bahasa dan logika, pertanyaan tersebut sebenarnya menyimpan persoalan konseptual yang tidak kecil. Sebelum menjawabnya, yang pertama perlu dilakukan adalah memeriksa struktur istilah yang dipakai di dalamnya.
Bahasa dan Masalah Definisi
Dalam setiap diskusi rasional, kejelasan istilah merupakan prasyarat utama. Sebuah pertanyaan hanya dapat dijawab secara tepat apabila objek yang ditanyakan memiliki definisi yang jelas. Jika istilah yang digunakan bersifat ambigu, maka pertanyaan tersebut sebenarnya belum memiliki objek yang pasti.
Istilah “aliran Islam” adalah contoh yang menarik. Dalam praktiknya, kata ini tidak menunjuk pada satu kategori yang tunggal. Ia digunakan secara longgar untuk merujuk pada beberapa jenis klasifikasi yang berbeda dalam tradisi Islam.
Pertama, istilah tersebut dapat merujuk pada mazhab fiqih, yaitu tradisi penafsiran hukum Islam yang berkembang dalam sejarah. Di dalamnya dikenal mazhab-mazhab seperti Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali.
Kedua, istilah itu bisa merujuk pada arah teologi atau aqidah, yaitu pendekatan dalam memahami persoalan-persoalan keimanan. Dalam ranah ini dikenal misalnya pendekatan Asy'ari, Maturidi, dan Athari.
Ketiga, istilah yang sama kadang digunakan untuk menyebut gerakan dakwah atau pendekatan pemikiran keagamaan, seperti Salafi, Ikhwan, atau Tablighi.
Keempat, dalam konteks lain ia dipakai untuk menyebut identitas sejarah dan politik umat, seperti Sunni, Syiah, atau Khawarij.
Masalahnya, dalam percakapan sehari-hari semua kategori ini sering dicampur dalam satu istilah yang sama: “aliran”. Akibatnya, istilah tersebut kehilangan ketepatan konseptualnya.
Kekeliruan Kategori
Ketika berbagai kategori yang berbeda digabungkan ke dalam satu istilah yang sama, yang terjadi adalah apa yang dalam filsafat disebut kekeliruan kategori (category mistake). Kita seolah-olah berbicara tentang satu jenis objek, padahal sebenarnya yang dimaksud adalah beberapa jenis klasifikasi yang berada pada level yang berbeda.
Akibatnya, dua orang dapat memberikan jawaban yang berbeda terhadap pertanyaan yang sama tanpa benar-benar saling bertentangan.
Seseorang mungkin menjawab, “Saya Sunni.”
Orang lain menjawab, “Saya mengikuti mazhab Syafi'i.”
Yang lain lagi mengatakan, “Saya mengikuti Al-Qur'an dan Sunnah.”
Secara sepintas jawaban-jawaban ini tampak berbeda, bahkan mungkin dianggap saling bersaing. Namun jika dianalisis secara konseptual, masing-masing sebenarnya berada pada tingkatan klasifikasi yang berbeda. Yang pertama berkaitan dengan identitas historis umat, yang kedua dengan mazhab hukum, sedangkan yang ketiga dengan prinsip rujukan normatif.
Tanpa kesadaran terhadap perbedaan level ini, perbedaan bahasa mudah disalahartikan sebagai perbedaan substansi.
Dimensi Sosial dari Sebuah Label
Selain persoalan logika, pertanyaan tentang “aliran” juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Dalam banyak situasi, pertanyaan tersebut tidak diajukan sebagai upaya klasifikasi ilmiah, melainkan sebagai cara untuk mengetahui posisi identitas seseorang dalam peta kelompok.
Dengan kata lain, pertanyaan itu sering kali berfungsi sebagai penanda: “Anda berada di pihak mana?”
Dalam konteks ini, istilah “aliran” bekerja bukan sebagai konsep analitis, melainkan sebagai label identitas sosial. Fungsi utamanya bukan menjelaskan gagasan, tetapi mengelompokkan individu.
Kejujuran Intelektual dalam Menjawab
Jika istilah yang digunakan dalam sebuah pertanyaan belum memiliki definisi yang jelas, maka menjawabnya secara langsung justru berisiko memperkuat kebingungan yang sudah ada. Karena itu, langkah yang lebih jujur secara intelektual adalah terlebih dahulu memperjelas istilah yang dipakai.
Pertanyaan yang lebih mendasar bukanlah “aliran apa”, melainkan: kategori apa yang sebenarnya sedang dibicarakan?
Apakah yang dimaksud adalah mazhab fiqih, pendekatan teologi, metode dakwah, atau identitas sejarah umat?
Memperjelas istilah bukanlah bentuk penghindaran dari jawaban. Dalam tradisi intelektual justru itulah langkah pertama dalam setiap penyelidikan rasional.
Banyak perdebatan dalam kehidupan keagamaan tidak muncul karena perbedaan dalil semata, tetapi karena ketidakjelasan bahasa yang digunakan dalam diskusi. Satu istilah dipakai untuk berbagai makna, lalu orang menilai dan menghakimi tanpa pernah menyepakati definisinya terlebih dahulu.
Dalam kondisi seperti ini, yang terjadi bukanlah pertukaran argumen, melainkan benturan label.
Karena itu, sebelum menjawab pertanyaan “Anda aliran Islam apa?”, yang lebih mendasar adalah menanyakan kembali: apa sebenarnya yang dimaksud dengan kata “aliran” itu sendiri?
Tanpa kejelasan tersebut, pertanyaan yang tampak sederhana itu sesungguhnya belum memiliki objek yang pasti untuk dijawab.
Komentar
Posting Komentar