yang tak selesai sebab yang mati bukan cinta, melainkan harapan akan bentuknya. dan yang hidup bisa saja bukan aku, melainkan pertanyaan yang belum selesai. aku pernah begitu yakin bahwa sesuatu yang berhenti hanyalah sesuatu yang belum kutemukan caranya. maka kucoba lagi. mengulang langkah, mengingat percakapan, menelusuri bagianbagian kecil yang barangkali luput dari perhatian. anehnya, semakin lama kupahami, semakin banyak yang tak bisa kupastikan. ada yang tampak baik saja sampai suatu hari taklagi memberi tanda. ada yang berkalikali kembali, meski kukira telah selesai. ada pula yang berubah setelah kusentuh, seolah kehadiranku sendiri menjadi bagian dari persoalan. aku taktahu sejak kapan mulai mengerti bahwa memperbaiki takselalu berarti mengembalikan segala ke bentuk semula. sebab mungkin, yang kuanggap kerusakan hanyalah sesuatu yang taklagi bekerja sebagaimana harapanku. dan mungkin juga, yang kusebut kehilangan adalah caraku sendiri menolak...