Membandingkan Rokok dengan Gula: Sebuah Kekeliruan Logika
Sering muncul pembelaan seperti ini:
"Merokok tidak masalah. Gula justru lebih berbahaya daripada rokok."
Kalimat tersebut terdengar meyakinkan, tetapi sebenarnya mengandung kekeliruan logika. Bahaya suatu hal tidak hilang hanya karena ada hal lain yang juga berbahaya.
Perbedaan yang Sangat Mendasar
Konsumsi gula berlebihan pada umumnya membahayakan orang yang memilih mengonsumsinya sendiri. Sebaliknya, asap rokok tidak berhenti pada perokok.
Asap rokok menyebar ke udara dan dihirup oleh orang lain yang tidak pernah memilih menerima risiko tersebut. Bayi, anak-anak, ibu hamil, anggota keluarga, rekan kerja, hingga orang yang sekadar berada di sekitar dapat menjadi perokok pasif.
Mereka tidak membeli rokok, tidak menyalakannya, bahkan mungkin tidak pernah merokok seumur hidup. Namun mereka tetap menerima paparan zat-zat berbahaya dari keputusan orang lain.
Gula Tidak Bekerja Seperti Itu
Jika seseorang mengonsumsi gula berlebihan, orang di sebelahnya tidak otomatis terkena diabetes atau gangguan metabolik hanya karena berada di dekatnya.
Risiko gula pada umumnya bersifat individual, sedangkan risiko asap rokok bersifat eksternal, yaitu dampaknya dipaksakan kepada orang lain.
Masalahnya Bukan Sekadar Kesehatan
Karena itu, perbandingan rokok dengan gula bukan hanya persoalan medis, tetapi juga persoalan etika.
Merokok bukan hanya keputusan yang memengaruhi diri sendiri, melainkan juga dapat meningkatkan risiko kesehatan bagi orang-orang yang tidak ikut mengambil keputusan tersebut.
Kesimpulan
Jika gula memang berbahaya, maka kesimpulan yang logis adalah mengurangi konsumsi gula, bukan menjadikan rokok tampak aman.
Merokok membahayakan diri sendiri dan orang lain. Konsumsi gula berlebihan terutama membahayakan diri sendiri. Itulah perbedaan mendasar yang membuat keduanya tidak dapat dijadikan pembenaran satu sama lain.
Komentar
Posting Komentar