Aku tidak mengingat Praya sebagai tempat.

Aku mengingatnya sebagai kondisi awal.

Sesuatu yang terjadi terlalu dini
sering tidak terasa seperti masa lalu.

Ia berubah menjadi cara kerja.

Cara membaca keadaan.
Cara menahan diri.
Cara menentukan kapan harus mendekat
dan kapan harus berhenti.

Praya meninggalkan beberapa jangkar.

Bukan kenangan yang bisa diceritakan.

Lebih buruk dari itu.

Pola.

Sampai sekarang aku masih mengurangi harapan
sebelum sesuatu benar-benar dimulai.

Bukan karena kecewa.

Perhitungan?

Harapan membuka kemungkinan.
Kemungkinan membuka risiko.
Risiko membuka kehilangan.

Maka jaraknya dipertahankan.

Sedikit dekat
agar tidak sepenuhnya sendiri.

Sedikit jauh
agar tidak sepenuhnya kehilangan.

Dulu mungkin disebut intuisi.

Sekarang aku tahu,
sebagian intuisi hanyalah keputusan lama
yang sudah terlalu sering digunakan
sampai tidak lagi terasa seperti keputusan.

Tubuh bergerak lebih cepat
daripada kesadaran.

Tangan menahan.

Mulut diam.

Langkah mundur
sebelum alasan sempat ditemukan.

Jangkar tidak selalu terasa berat.

Kadang ia terasa seperti kestabilan.

Kita mengira sedang berdiri tegak
padahal sedang ditahan
oleh sesuatu yang tertancap jauh
di bawah permukaan.

Setiap sore,
menjelang setengah enam,

ada sesuatu yang kembali aktif.

Hanya sedikit lewat.

Enam koma enam enam enam enam enam enam… persen
dari satu jam.

Tidak ada yang istimewa
dari angka itu.

Bagi orang lain.

Bagiku,
ada sesuatu yang berubah
setelahnya.

Tidak langsung menjadi ingatan.

Lebih seperti gangguan kecil
pada permukaan air.

Kemudian tubuh mengingat
apa yang tidak ingin diingat pikiran.

Sebuah jalan.

Sebuah cahaya.

Sebuah kemungkinan.

Sesuatu yang tidak pernah selesai
karena tidak pernah sempat diverifikasi.

Barangkali itu yang sebenarnya kurindukan.

Bukan Praya.

Bukan seseorang.

Melainkan kemungkinan
yang dieliminasi sebelum sempat diketahui
apakah layak dipertahankan.

Rindu ternyata tidak selalu
ingin kembali.

Kadang rindu hanya berarti
masih ada sesuatu
yang tidak pernah mendapat jawaban.

Dan manusia paling sulit berdamai
dengan sesuatu
yang tidak pernah terbukti salah
maupun benar.

Karena itu aku tidak kuat
Berlama-lama di Praya.

Terlalu banyak jangkar.

Terlalu banyak titik
yang membuat masa lalu
masih memiliki daya tarik
terhadap keputusan hari ini.

Aku bisa pindah kota.

Mengubah rutinitas.

Mengenal jalan baru.

Membuat kehidupan baru.

Tetapi apa yang terbentuk di sana
tidak otomatis hilang
ketika aku meninggalkannya.

Aku tetap membawa cara yang sama
untuk menghitung kehilangan.

Tetap menyimpan kalimat
sebelum mengucapkannya.

Tetap mengukur kedekatan
sebelum mempercayai seseorang.

Tetap memilih bertahan
karena bertahan terasa lebih murah
daripada berharap.

Kesunyian akhirnya
terasa biasa.

Bukan keutamaan.

Bukan kemenangan.

Hanya penyesuaian.

Aku belajar beroperasi
tanpa saksi.

Mungkin itu sebabnya
aku tidak pernah benar-benar membawa kenangan.

Aku membawa akibatnya.

Kenangan telah menjadi
cara tubuh mengambil jarak,
cara pikiran menghitung risiko,
dan cara hati menentukan
berapa banyak yang boleh disentuh.

Itulah kutukan jangkar ingatan.

Bukan bahwa masa lalu
menarik kita kembali.

Melainkan masa lalu
diam-diam menentukan
seberapa jauh kita berani pergi.

Dan mungkin.
sampai hari ini aku masih hidup
dengan persetujuan sadar
atas biaya setiap keterlibatan.

Tidak lagi berharap
bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Hanya memastikan
bahwa jika sesuatu kembali runtuh,

aku sudah tahu
berapa yang sanggup kutanggung.

Lalu sore datang lagi.

Menjelang setengah enam.

Sedikit lewat.

Enam koma enam enam enam enam enam enam… persen
dari satu jam.

... ...

Beberapa jangkar
tidak membutuhkan nama.

Cukup tertancap.

Dan tetap bekerja.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membaca Kesehatan SSD: Mengapa Angka “Sehat” Tidak Selalu Aman

Logika Pembayaran Servis Laptop terutama yang bekas gagal servis tempat lain