Ksatria Solder
Lelaki itu tidak takut mati.
Setidaknya, begitulah kesimpulan yang mungkin diambil seseorang jika pernah melihat caranya menghadapi kehidupan. Tidak banyak yang membuatnya terkejut. Pengkhianatan tidak lagi selalu mengundang kemarahan. Kehilangan kepercayaan tidak selalu membuatnya bertanya mengapa. Bahkan, ketika sesuatu yang telah dibangunnya dengan susah payah dirusak oleh tangan orang lain, dia masih bisa duduk, menyalakan lampu meja, lalu melanjutkan pekerjaannya.
Seolah-olah tidak ada yang terjadi.
Padahal, sesuatu selalu terjadi.
Hanya saja, tidak semua kerusakan mengeluarkan suara.
Pukul berapa pun malam berjalan, meja kerjanya hampir selalu menyisakan cahaya.
Sebuah motherboard terbuka di hadapannya. Ujung solder memanas, timah mencair, dan tangannya bergerak dengan ketelitian yang nyaris tidak menyisakan ruang bagi kecerobohan.
Dia memeriksa tegangan. Menelusuri jalur. Menguji komponen.
Tidak ada keputusan yang boleh diambil hanya karena sesuatu terlihat meyakinkan.
Sebuah perangkat tidak akan kembali berfungsi hanya karena teknisinya pandai menjelaskan kerusakan. Komponen yang gagal tetap harus ditemukan. Jalur yang terputus tetap harus dibuktikan. Pekerjaan yang baik menuntut sesuatu yang lebih mahal daripada penampilan: kompetensi.
Anehnya, prinsip sesederhana itu terasa semakin sulit ditemukan ketika dia meninggalkan meja kerja.
Di luar sana, orang-orang tidak selalu dinilai berdasarkan apa yang mampu dikerjakan. Kadang-kadang, yang lebih menentukan justru siapa yang mengenal siapa, siapa yang pandai mengambil hati, siapa yang tahu kapan harus berbicara, dan siapa yang cukup lihai membuat kesalahan tampak seperti keberhasilan.
Orang yang bekerja dengan sungguh-sungguh bisa diabaikan.
Orang yang memahami persoalan sampai ke akarnya bisa kalah oleh seseorang yang hanya menguasai cara menjelaskannya.
Sementara mereka yang pandai memainkan keadaan sering kali mendapatkan tempat yang bahkan tidak pernah diberikan kepada orang-orang yang menjaga keadaan tetap berjalan.
Lelaki itu mengamati semua itu terlalu lama.
Mungkin terlalu lama untuk tetap percaya bahwa dunia bekerja berdasarkan ukuran yang adil.
Dahulu, dia pernah menganggap kejujuran sebagai sesuatu yang cukup untuk menjaga hubungan. Dia percaya bahwa kesungguhan akan dikenali pada waktunya, bahwa kompetensi akan menemukan tempatnya sendiri, dan bahwa orang yang berbuat baik tidak harus terus-menerus membuktikan bahwa dirinya tidak memiliki niat tersembunyi.
Waktu mengoreksi keyakinan itu tanpa meminta persetujuannya.
Ada kepercayaan yang digunakan sebagai jalan masuk menuju kepentingan pribadi. Ada kebaikan yang diterima tanpa pernah dihargai. Ada pengkhianatan yang dilakukan dengan wajah tenang, kemudian dijelaskan melalui serangkaian kalimat yang terdengar lebih masuk akal daripada luka yang ditinggalkannya.
Yang paling mengganggu bukan kenyataan bahwa manusia bisa berbuat buruk.
Dia sudah lama memahami kemungkinan itu.
Yang sulit diterima adalah ketika kepalsuan justru menjadi cara yang efektif untuk bertahan, sementara orang yang berusaha menjaga integritasnya harus menanggung harga yang lebih mahal.
Seolah-olah dunia tidak benar-benar membutuhkan orang yang baik.
Dunia hanya membutuhkan orang yang terlihat baik pada saat yang tepat.
Dan lelaki itu tidak pernah benar-benar mahir memainkan perbedaan tersebut.
Dia lebih suka mengerjakan sesuatu sampai selesai daripada menjelaskan betapa sibuknya dirinya. Lebih suka menemukan penyebab daripada menyusun alasan. Lebih suka mengakui kesalahan daripada menghabiskan tenaga untuk mempertahankan citra yang sudah telanjur retak.
Barangkali karena itu, dia sering merasa berada di tempat yang salah, bahkan ketika sedang mengerjakan sesuatu dengan benar.
Pada malam-malam tertentu, kematian melintas dalam pikirannya seperti sebuah keheningan yang jauh.
Bukan sebagai adegan dramatis. Bukan pula sebagai sesuatu yang perlu diumumkan kepada siapa pun.
Hanya sebuah pikiran yang datang ketika seluruh kebisingan dunia terasa terlalu melelahkan.
Bagaimana jika suatu hari semua permainan ini berhenti?
Bagaimana jika dia tidak perlu lagi menyaksikan orang-orang mengkhianati kepercayaan, menyaksikan kepandaian dipakai untuk memanipulasi, atau melihat orang yang sungguh-sungguh bekerja dipinggirkan demi kepentingan yang lebih pandai menyamar?
Bagaimana jika tidak ada lagi tuntutan untuk memahami sesuatu yang sejak awal tidak pernah berniat berlaku jujur?
Dia tidak menemukan jawaban yang membuat pikirannya benar-benar tenang.
Namun, dia memahami satu hal: terkadang, yang dirindukan seseorang ketika memikirkan kematian bukanlah kematian itu sendiri.
Keinginan untuk meninggalkan panggung yang terlalu penuh kepura-puraan. Untuk tidak lagi menjadi penonton sekaligus korban dari permainan yang tidak pernah dia setujui aturannya.
Dia tidak ingin memenangkan permainan semacam itu.
Dia hanya ingin hidup tanpa harus menjadi bagian darinya.
Sayangnya, dunia tidak menyediakan banyak ruang bagi orang yang memilih berdiri di luar permainan.
Bahkan untuk sekadar mencari nafkah, seseorang kadang harus berhadapan dengan hal-hal yang bertentangan dengan prinsipnya sendiri.
Maka lelaki itu tetap bekerja.
Bukan karena seluruh keraguannya telah selesai, melainkan karena kehidupan masih menyisakan tanggung jawab yang tidak bisa begitu saja diabaikan.
Ada sesuatu yang menarik dari pekerjaannya.
Motherboard tidak peduli siapa yang memegang solder. Arus tidak mengalir karena seseorang memiliki jabatan. Sebuah komponen tidak menjadi sehat hanya karena pemiliknya pandai berbicara.
Di hadapan rangkaian elektronik, semua orang harus tunduk pada kenyataan.
Tegangan yang tidak sesuai tetap tidak sesuai.
Komponen yang rusak tetap membutuhkan pemeriksaan.
Diagnosis yang keliru tetap keliru, sekalipun disampaikan dengan penuh keyakinan.
Lelaki itu menemukan ketenangan kecil dalam keteraturan tersebut.
Bukan karena dunia elektronik sempurna. Di sana pun ada kesalahan desain, kerusakan yang sulit ditemukan, dan perangkat yang sudah tidak layak dipulihkan.
Namun, setidaknya, ada metode untuk membedakan dugaan dari bukti.
Ada pengukuran yang dapat diulang.
Ada kesimpulan yang harus bersedia dikoreksi ketika kenyataan menunjukkan hal berbeda.
Dia tidak perlu menyukai sebuah komponen agar bisa mengukur kondisinya dengan benar. Tidak perlu membenci sebuah motherboard untuk menyatakan bahwa kerusakannya terlalu parah.
Pekerjaan menuntut ketepatan, bukan kesetiaan buta.
Barangkali manusia membutuhkan lebih banyak prinsip semacam itu.
Tetapi dia tahu, tidak semua orang datang untuk mencari kebenaran. Sebagian datang untuk mempertahankan kepentingannya. Sebagian ingin didengar tanpa bersedia diperiksa. Sebagian lagi hanya menginginkan hasil yang menguntungkan, sekalipun harus mengorbankan orang yang mengerjakannya.
Dan di sanalah kemampuan memperbaiki sesuatu mulai menemukan batasnya.
Menjelang pagi, motherboard itu kembali berfungsi.
Lelaki tersebut menguji perangkat sekali lagi. Memeriksa kestabilan. Memastikan tidak ada gejala yang terlewat.
Baru setelah semuanya sesuai, dia merapikan peralatan.
Di atas meja, solder yang mulai dingin tergeletak di samping multimeter. Ada bekas timah pada ujungnya. Ada sedikit debu yang belum sempat dibersihkan.
Pekerjaan selesai.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada orang yang perlu diberi tahu betapa banyak waktu yang dihabiskan untuk menemukan satu kerusakan kecil.
Perangkat itu hanya kembali bekerja sebagaimana mestinya.
Dia memandangnya sebentar.
Mungkin begitulah bentuk keberhasilan yang paling dia pahami: sesuatu menjalankan fungsinya dengan benar, meskipun tidak ada yang menyaksikan proses di baliknya.
Dia tidak membutuhkan dunia untuk selalu memberinya penghargaan.
Namun, tentu saja, dia tetap manusia.
Ada bagian dalam dirinya yang ingin dimengerti. Ada kelelahan yang tidak selesai hanya dengan tidur. Ada pertanyaan tentang mengapa sesuatu yang benar harus diperjuangkan sedemikian keras, sementara sesuatu yang palsu kadang-kadang cukup mengubah cara penyampaiannya untuk diterima banyak orang.
Dia hanya tidak lagi terlalu berharap menemukan jawaban dari tempat yang sama yang melahirkan pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Pagi perlahan menyentuh jendela bengkel.
Lelaki itu belum mematikan lampu.
Di hadapannya, peralatan telah tersusun rapi. Pekerjaan berikutnya mungkin datang beberapa jam lagi. Mungkin sebuah laptop yang mati total. Mungkin perangkat yang telah berpindah tangan berkali-kali tanpa pernah mendapatkan diagnosis yang benar.
Dia akan memeriksanya.
Mengukur sebelum menyimpulkan. Menelusuri sebelum mengganti. Membuktikan sebelum menyatakan sesuatu rusak.
Sementara itu, dunia di luar akan terus menjalankan kebiasaannya.
Orang-orang akan tetap mengejar tempat. Sebagian akan bekerja dengan sungguh-sungguh. Sebagian akan sibuk membangun kesan. Orang baik mungkin kembali diabaikan. Orang kompeten mungkin kembali kalah oleh kepentingan yang tidak pernah berhubungan dengan kemampuannya.
Dan pengkhianatan, seperti biasa, akan menemukan alasan baru untuk menyebut dirinya sesuatu yang lain.
Lelaki itu tidak memiliki kuasa untuk menghentikan semuanya.
Dia bahkan tidak yakin masih memiliki cukup keyakinan untuk berharap dunia berubah.
Namun, dia belum meletakkan soldernya.
Mungkin karena masih ada pekerjaan yang bisa diselesaikan. Mungkin karena masih ada orang yang membutuhkan keahliannya. Mungkin karena di tengah segala sesuatu yang tidak lagi dia percayai, dia belum ingin ikut merusak satu-satunya hal yang masih bisa dikerjakannya dengan jujur.
Atau mungkin, ada bagian dalam dirinya yang belum selesai memahami mengapa kehidupan bisa begitu mengecewakan, tetapi tetap menyisakan hal-hal yang layak dijaga.
Dia berdiri, kemudian memandang papan elektronik yang telah selesai diperbaiki.
Pada benda itu, kerusakan memiliki batas. Ada bagian yang bisa diganti, jalur yang bisa dipulihkan, dan keadaan yang bisa dibuktikan.
Pada manusia, semuanya jauh lebih rumit.
Ada orang yang rusak karena keadaan, lalu berusaha memperbaiki diri.
Ada orang yang mengetahui kerusakannya, tetapi tidak ingin berubah.
Ada pula orang yang justru memperoleh keuntungan dari kerusakan yang ditimbulkannya kepada orang lain.
Lelaki itu tidak lagi merasa harus menyelamatkan semuanya.
Dia hanya perlu mengetahui mana yang masih bisa diperbaiki dan mana yang harus dibiarkan menjadi pelajaran.
Makin ke sini, dia memang semakin mengerti mengapa kematian tidak selalu menakutkan bagi seseorang.
Bukan karena kehidupan tidak berharga.
Melainkan karena kehidupan bisa menjadi begitu bising hingga keheningan terasa seperti sesuatu yang dirindukan.
Namun, pagi itu dia tetap membuka pintu bengkel.
Cahaya masuk. Udara bergerak. Hari baru dimulai tanpa meminta pendapatnya.
Dan di meja kerja, masih ada perangkat lain yang menunggu diperiksa.
Lelaki itu kembali duduk.
Mengambil multimeter.
Menyalakan lampu.
Sebab meskipun dia telah berkali-kali merasa asing di dunia ini, masih ada sesuatu yang belum ingin dia tinggalkan: pekerjaan yang bisa dilakukan dengan benar, tanpa kebohongan, tanpa permainan, tanpa perlu menjadi orang lain demi mendapatkan tempat.
Pada papan yang rusak, setiap jalur menyimpan kemungkinan.
Pada manusia, tidak semua kerusakan ingin diperbaiki.
Dan mungkin, untuk sementara waktu, itulah yang cukup untuk membuatnya tetap tinggal.
Komentar
Posting Komentar