Mataram IntroverT
catatan pribadi Imam Surya Budi
Saya tidak sedang membangun blog yang harus dipahami orang.
Tidak juga sedang berusaha membuat setiap tulisan terlihat cerdas, setiap gagasan terasa matang, atau setiap kesimpulan seolah sudah melewati serangkaian pengujian sebelum boleh dipublikasikan.
Kadang saya hanya ingin menulis sesuatu yang sedang melintas di kepala. Sesuatu yang mungkin penting hari ini, kemudian tidak lagi menarik beberapa bulan mendatang. Atau sesuatu yang hari ini belum saya pahami, tetapi entah mengapa terasa perlu dicatat.
Bisa tentang kehidupan, agama, teknologi, manusia, kenangan, kegagalan, puisi, atau hal-hal remeh yang mungkin tidak ada hubungannya satu sama lain.
Tidak harus ada benang merah.
Kalaupun ada, mungkin benang itu baru terlihat bertahun-tahun kemudian. Atau memang tidak pernah ada dan saya hanya sedang menghubungkan sesuatu yang sebenarnya tidak berhubungan.
Tidak masalah.
Saya sudah terlalu sering melihat bagaimana sesuatu yang semula sederhana menjadi rumit karena tuntutan untuk terlihat baik di hadapan orang lain. Pikiran harus disusun, bahasa harus diperhalus, pendapat harus diberi landasan, bahkan perasaan terkadang harus dijelaskan agar tidak disalahpahami.
Padahal, tidak semua yang ada di kepala saya lahir dalam keadaan siap dipertanggungjawabkan sebagai sebuah gagasan yang utuh.
Ada yang masih berupa kecurigaan.
Ada yang sekadar pertanyaan.
Ada yang mungkin keliru.
Dan ada yang sampai sekarang belum selesai, meskipun sudah berkali-kali saya pikirkan.
Saya ingin membiarkan semuanya punya tempat.
Sebab saya tidak tahu apakah pikiran saya hari ini akan tetap menjadi pikiran saya sepuluh tahun lagi. Bisa jadi saya membaca kembali tulisan lama, lalu menemukan kebodohan yang dahulu saya anggap sebagai kebenaran. Bisa juga saya menemukan sesuatu yang ternyata masih relevan, sesuatu yang tidak pernah benar-benar berubah meskipun banyak hal lain sudah berganti.
Saya tidak ingin buru-buru menghapus jejak yang seperti itu.
Biarkan tulisan lama menjadi bukti bahwa saya pernah berpikir demikian. Bukan berarti saya harus terus mempercayainya.
Manusia berubah. Cara memahami sesuatu berubah. Bahkan hal-hal yang pernah kita bela dengan keras kadang menjadi sesuatu yang justru kita pertanyakan di kemudian hari.
Lalu untuk apa memaksa semua tulisan terlihat konsisten?
Mungkin yang lebih menarik justru ketidakkonsistenan itu sendiri. Bagaimana seseorang bisa sampai pada suatu kesimpulan, mengapa kemudian meninggalkannya, dan apa yang terjadi di antara kedua keadaan tersebut.
Sayangnya, kita lebih sering sibuk merapikan hasil akhir daripada menyimpan proses yang melahirkannya.
Mataram IntroverT, setidaknya untuk saya, tidak harus menjadi tempat yang demikian.
Saya bisa menulis sesuatu hari ini, lalu menulis hal yang bertentangan dengannya besok. Saya bisa menulis puisi yang tidak menjelaskan apa-apa, kemudian membuat catatan panjang tentang sesuatu yang sangat teknis. Saya bisa berbicara tentang manusia, lalu beralih membicarakan mesin. Menulis tentang Tuhan, kemudian kembali pada pertanyaan yang bahkan belum tentu berani saya ajukan kepada siapa pun.
Apa hubungannya?
Saya tidak selalu tahu.
Mungkin karena semuanya berlangsung di kepala yang sama.
Atau jangan-jangan kita memang terlalu terbiasa menganggap bahwa setiap bagian dari kehidupan harus memiliki hubungan yang bisa dijelaskan kepada orang lain.
Saya tidak sedang menyiapkan sebuah sistem pengetahuan untuk diwariskan. Tidak sedang menyusun buku yang harus selesai. Tidak juga sedang membangun citra seorang pemikir yang setiap tulisannya harus menunjukkan kedalaman tertentu.
Saya hanya ingin punya tempat untuk menyimpan apa yang sedang saya pikirkan.
Kalau suatu hari ada orang yang membaca dan merasa menemukan sesuatu di dalamnya, silakan. Kalau ada yang tidak mengerti, juga tidak apa-apa. Bahkan kalau tidak ada yang membaca sama sekali, alasan keberadaan blog ini tidak serta-merta hilang.
Sebab sebelum menjadi sesuatu yang dibaca orang lain, tulisan ini memang sudah punya tujuan: menjadi tempat bagi pikiran saya sendiri.
Saya tidak ingin terlalu sibuk membayangkan siapa pembacanya sampai lupa apa yang sebenarnya ingin saya tulis.
Barangkali ada sesuatu yang terdengar egois dari cara berpikir seperti ini. Sebuah blog yang dipublikasikan di internet, tetapi tidak terlalu peduli apakah orang lain memahaminya.
Namun, bukankah memublikasikan sesuatu tidak selalu berarti menyerahkan seluruh hak untuk menentukan bentuknya kepada pembaca?
Saya tetap bisa menulis untuk diri sendiri meskipun tulisan itu dapat diakses siapa saja.
Internet menyediakan ruang publik. Tidak berarti setiap hal yang diletakkan di dalamnya harus menjadi pertunjukan.
Jadi, kalau nanti blog ini berisi catatan yang melompat ke sana kemari, biarkan saja.
Kalau ada tulisan yang terlalu panjang, ada yang hanya beberapa kalimat, ada yang berisi pertanyaan tanpa jawaban, atau ada yang ketika dibaca kembali terasa seperti ditulis oleh orang yang berbeda, biarkan semuanya tinggal di tempatnya.
Saya tidak sedang mengejar keteraturan.
Setidaknya bukan keteraturan yang harus terlihat oleh orang lain.
Mungkin suatu hari saya akan merapikannya. Mungkin juga tidak.
Untuk sekarang, saya hanya ingin menulis tanpa harus selalu memikirkan apakah tulisan ini cukup bagus, cukup masuk akal, cukup menarik, atau cukup layak untuk mendapatkan perhatian.
Saya ingin mencatat pikiran sebelum pikiran itu hilang. Menyimpan kegelisahan sebelum berubah menjadi sesuatu yang lain. Membiarkan beberapa pertanyaan tetap menjadi pertanyaan, tanpa merasa wajib mengubahnya menjadi pelajaran hidup.
Dan jika beberapa tahun lagi saya membaca semuanya kembali, saya ingin menemukan seseorang yang pernah berpikir, pernah salah, pernah yakin, pernah ragu, dan pernah tidak tahu harus ke mana.
Bukan seseorang yang seluruh jejaknya sudah dirapikan agar tampak seperti perjalanan yang direncanakan sejak awal.
Karena hidup saya sendiri tidak berjalan serapi itu.
Mengapa catatan saya harus berpura-pura sebaliknya?
Mataram IntroverT.
Catatan pribadi Imam Surya Budi.
Tidak harus rapi. Tidak harus selesai. Tidak harus dipahami.
Untuk sementara, biarkan saja di sini.

Komentar
Posting Komentar