Paratusin
Ada sesuatu yang menarik ketika membaca nama sebuah obat. Paratusin.
Obat bebas terbatas yang digunakan untuk meredakan gejala flu dan batuk, seperti demam, sakit kepala, hidung tersumbat, bersin-bersin, serta batuk.
Namun, bagi sebagian orang Sasak di Lombok, nama tersebut mungkin menghadirkan ingatan yang berbeda.
Peretus.
Dalam bahasa Sasak, peretus atau peretuk dikenal dalam konteks tradisi pengobatan masyarakat. Sebuah praktik yang tidak hanya berbicara tentang tubuh, tetapi juga tentang pengalaman batin, kepercayaan, dan cara masyarakat memahami kondisi seseorang setelah mengalami peristiwa yang mengguncang.
Ketika Seseorang Mengalami Ketemuq
Dalam tradisi yang dikenal oleh sebagian masyarakat Sasak, terdapat kondisi yang disebut ketemuq.
Kondisi ini dipercaya dapat muncul ketika seseorang mengalami syok, trauma berat, pusing, stres, atau gangguan psikologis setelah merasa disapa atau melihat penampakan makhluk halus maupun arwah orang yang telah meninggal.
Peretus kemudian menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang dipercaya dapat membantu memulihkan kondisi tersebut.
Tentu saja, kepercayaan tradisional dan penjelasan medis modern merupakan dua kerangka pemahaman yang berbeda. Pengalaman seseorang yang mengalami trauma atau gangguan psikologis tetap perlu dipahami dengan memperhatikan kondisi kesehatan dan kebutuhan penanganannya.
Paratusin dan Peretus
Yang menarik bukan semata-mata bahwa keduanya berkaitan dengan pengobatan.
Tetapi bagaimana sebuah nama obat modern dapat mengingatkan seseorang pada istilah lokal yang telah hidup dalam ingatan masyarakatnya.
Paratusin dalam pikiran orang Sasak mirip seperti "peretus".
Barangkali hanya permainan bunyi.
Paratusin dan peretus memiliki kemiripan fonetik yang cukup menarik untuk diperhatikan. Namun, kemiripan tersebut belum membuktikan bahwa keduanya berasal dari akar kata yang sama, atau bahwa nama obat modern tersebut memiliki hubungan historis dengan tradisi pengobatan Sasak.
Kita tidak perlu memaksakan hubungan yang belum terbukti untuk menikmati sebuah kebetulan bahasa.
Sebab terkadang, sesuatu yang sederhana justru membuka pintu menuju ingatan yang lebih panjang.
Bahasa Menyimpan Ingatan
Bahasa lokal sering menyimpan sesuatu yang tidak selalu ditemukan dalam kamus.
Ada pengalaman hidup, kebiasaan, kepercayaan, dan cara masyarakat memahami dunia yang diwariskan melalui kata-kata.
Peretus menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah istilah dapat membawa kita pada praktik pengobatan tradisional yang memiliki tempat tersendiri dalam kebudayaan Sasak.
Sementara Paratusin hadir sebagai nama obat modern yang digunakan untuk meredakan gejala penyakit.
Keduanya tidak harus memiliki hubungan sejarah untuk membuat kita berhenti sejenak dan berpikir.
Karena mungkin, di antara nama-nama yang kita temui setiap hari, ada bahasa lama yang diam-diam sedang mengingatkan kita pada sesuatu yang hampir terlupakan.
Penutup
Paratusin.
Peretus.
Satu nama kita temukan pada kemasan obat. Satu nama lainnya hidup dalam ingatan tradisi.
Keduanya terdengar berdekatan.
Dan bagi orang Sasak, mungkin ada sesuatu yang terasa akrab ketika mendengarnya.
Bukan karena keduanya terbukti berasal dari hal yang sama. Melainkan karena bahasa kadang memiliki cara tersendiri untuk mempertemukan sesuatu yang berbeda.
