Kehilangan Sandal: Masalah Kecil atau Data untuk Memperbaiki Sistem?

KEHILANGAN SANDAL: MASALAH KECIL ATAU DATA UNTUK MEMPERBAIKI SISTEM?

Sandal mungkin bernilai kecil.

Tetapi dalam sebuah lembaga pendidikan berasrama, setiap kejadian yang berulang layak dilihat lebih jauh daripada sekadar nilai barang yang hilang.

Pada 8 Agustus 2026, terjadi kehilangan sandal santri kelas 2 SMP IT Abu Hurairah.

Sebelumnya, terdapat anggapan bahwa kehilangan sandal lebih banyak terjadi pada santri kelas 1. Munculnya kejadian pada kelas 2 setidaknya menjadi alasan untuk tidak lagi melihat persoalan ini semata-mata sebagai kejadian individual.

Hal ini menjadi relevan karena Pondok Pesantren Abu Hurairah Mataram secara publik mencantumkan ISO 9001:2015 sebagai bagian dari standar manajemen pendidikannya, bersama standar Mu'adalah Universitas Islam Madinah dan standar akreditasi pendidikan.

PAH juga telah mempublikasikan bahwa berdasarkan Audit Surveillance 1st, sertifikasi ISO 9001:2015 berhasil dipertahankan.

Maka pertanyaan yang menurut saya lebih tepat bukan:

"Siapa yang mengambil sandal?"

Tetapi:

"Apa yang dilakukan sistem setelah kejadian tersebut terjadi?"

Dalam perspektif manajemen mutu, sebuah kejadian dapat menjadi DATA.

Data dapat digunakan untuk melihat POLA.

Pola dapat dianalisis untuk menemukan AKAR MASALAH.

Akar masalah dapat menghasilkan TINDAKAN KOREKTIF.

Kemudian tindakan tersebut perlu dievaluasi:

"Apakah benar-benar efektif?"

Secara sederhana:

KEJADIAN
-> PENCATATAN
-> ANALISIS
-> TINDAKAN KOREKTIF
-> EVALUASI
-> PERBAIKAN

Inilah semangat perbaikan berkelanjutan.

Saya tidak mengatakan bahwa sandal hilang berarti sistem ISO gagal.

Kesimpulan seperti itu terlalu jauh.

ISO 9001:2015 bukan sistem yang menjamin bahwa tidak akan pernah terjadi kehilangan barang, kesalahan manusia, atau masalah operasional.

Yang lebih penting adalah bagaimana organisasi belajar dari masalah yang terjadi.

Jika CCTV tersedia, misalnya, maka rekaman tidak hanya berguna untuk mencari kemungkinan pelaku.

Data CCTV juga dapat digunakan untuk mengevaluasi:

  • pola keluar masuk area;
  • waktu kejadian;
  • titik yang tidak terpantau;
  • pola penempatan sandal;
  • kemungkinan kelemahan pengawasan;
  • efektivitas sistem pengendalian yang sudah ada.

Demikian pula dengan pengelolaan sandal.

Mungkin diperlukan rak yang lebih teratur.

Mungkin diperlukan identifikasi kepemilikan.

Mungkin diperlukan SOP penempatan dan pengambilan.

Mungkin diperlukan pengawasan pada waktu tertentu.

Atau mungkin akar masalahnya ternyata berbeda.

Karena itu, DATA diperlukan sebelum membuat kesimpulan.

Menurut saya, di sinilah pendidikan mempunyai tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar menyelesaikan barang yang hilang.

Santri memang harus diajarkan bahwa mengambil barang milik orang lain adalah perbuatan yang salah.

Tetapi santri juga perlu hidup di dalam sistem yang mengajarkan bahwa setiap masalah harus dipelajari, setiap kesalahan harus dievaluasi, dan setiap perbaikan harus diuji efektivitasnya.

Pendidikan karakter dan manajemen mutu seharusnya tidak berjalan di dua dunia yang berbeda.

Keduanya bertemu dalam kehidupan sehari-hari.

Bahkan dalam perkara sesederhana sandal.

Qadarullah menjelaskan bahwa sesuatu telah terjadi.

Manajemen menjelaskan apa yang harus dilakukan setelah sesuatu terjadi.

Kehilangan sandal boleh saja merupakan bagian dari qadarullah.

Tetapi pencatatan kehilangan, pemeriksaan lokasi, pemanfaatan CCTV, identifikasi pola, analisis akar masalah, tindakan korektif, dan evaluasi efektivitas adalah bagian dari ikhtiar manusia dalam menjaga amanah.

Karena itu, kritik seperti ini tidak harus dipahami sebagai serangan terhadap lembaga.

Justru sebaliknya.

Semakin tinggi standar yang kita nyatakan, semakin tinggi pula kualitas pertanyaan yang pantas kita ajukan.

Bukan untuk mencari siapa yang salah.

Tetapi untuk memastikan bahwa ketika sebuah masalah terjadi hari ini, sistem menjadi lebih baik besok.

SETIAP KEJADIAN ADALAH DATA.

SETIAP DATA ADALAH PELUANG UNTUK BELAJAR.

SETIAP PEMBELAJARAN SEHARUSNYA MENGHASILKAN PERBAIKAN.

Dan jika sebuah sistem benar-benar hidup, hasil perbaikannya pada akhirnya tidak hanya terlihat pada dokumen atau sertifikat.

Ia akan terlihat di ruang kelas.

Di lorong asrama.

Di rak sandal.

Di kamar santri.

Dan terutama pada rasa aman anak-anak yang dipercayakan kepada lembaga pendidikan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membaca Kesehatan SSD: Mengapa Angka “Sehat” Tidak Selalu Aman

Logika Pembayaran Servis Laptop terutama yang bekas gagal servis tempat lain