KSATRIA SOLDER


Makin ke sini, lelaki itu mengerti: tak semua orang takut mati.


Ada yang lelah menyaksikan dunia memuja citra, mengabaikan kompetensi, mengangkat kepalsuan, lalu menyuruh kejujuran mengalah.


Dia pernah percaya kebaikan akan menemukan tempatnya, kesungguhan akan mendapat penghargaan, dan kepercayaan tak berakhir menjadi jalan masuk pengkhianatan.


Waktu mengajarinya berbeda.


Di bawah lampu meja kerja, dia menelusuri jalur motherboard, mengukur tegangan, menguji komponen. Kerusakan tak bisa dibujuk agar mengaku sehat.


Namun manusia bisa merusak, berpura-pura benar, lalu menyebut pengkhianatan sebagai strategi.


Malam-malam tertentu, dia merindukan kematian— bukan semata ingin mengakhiri hidup, melainkan lelah menghadapi dunia yang membuat kejujuran terasa asing.


Dia tak ingin memenangkan permainan. Dia hanya ingin hidup tanpa harus menjadi bagian darinya.


Namun pagi selalu membawa sesuatu yang belum selesai.


Dia kembali menyalakan lampu, mengambil multimeter, memperbaiki yang masih mungkin.


Barangkali dia bertahan bukan karena dunia layak dipercaya, melainkan karena masih ada tanggung jawab yang tak selesai hanya dengan kecewa.


Pada papan yang rusak, setiap jalur menyimpan kemungkinan.


Pada manusia, tak semua kerusakan ingin diperbaiki.


Makin ke sini, dia semakin mengerti: bertahan tak selalu berarti mencintai dunia.


Kadang, bertahan hanyalah cara agar dunia yang penuh kepalsuan tak berhasil mengubah dirinya menjadi sesuatu yang sejak awal tak pernah ingin dia jadi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membaca Kesehatan SSD: Mengapa Angka “Sehat” Tidak Selalu Aman

Logika Pembayaran Servis Laptop terutama yang bekas gagal servis tempat lain