Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2025

Merencanakan Kematian (Bagian II)

Gambar
  Bagian II — Kematian sebagai Risiko Operasional Setiap sistem yang matang selalu mengakui satu hal: kegagalan bukan soal jika , melainkan kapan . Dalam dunia teknik, keuangan, dan manajemen, asumsi ini dianggap sehat. Anehnya, ketika prinsip yang sama diterapkan pada relasi manusia, ia langsung dicap sinis. Padahal keluarga, pernikahan, dan pekerjaan adalah sistem. Dan semua sistem memiliki single point of failure . Kematian adalah kegagalan paling absolut. Tidak bisa ditunda. Tidak bisa dinegosiasikan. Tidak bisa ditambal dengan niat baik. Maka manusia yang berpikir jernih—meski enggan mengaku—akan memperlakukan kematian sebagai risiko operasional . Bukan karena ia tidak mencintai, tetapi karena ia memahami biaya kehancuran total. Ketergantungan absolut terdengar romantis, namun secara struktural rapuh. Satu orang memegang terlalu banyak fungsi: emosional, ekonomi, sosial, administratif. Ketika ia pergi, yang runtuh bukan hanya perasaan, tetapi seluruh mekanisme hidup....

Merencanakan Kematian (Bagian I)

Gambar
Merencanakan Kematian (Bagian I): Yang Diam-diam Sudah Kita Lakukan Tidak ada manusia yang secara terbuka merencanakan kematian. Itu terdengar tidak bermoral, tidak pantas diucapkan keras-keras. Maka kita menyamarkannya. Kita menyebutnya antisipasi , persiapan , jaga-jaga . Padahal substansinya sama: penataan hidup pascakehilangan . Kita mulai dari hal-hal kecil dan tampak masuk akal. Asuransi. Surat wasiat. Tabungan darurat. Daftar kontak penting. Semua itu dipuji sebagai tanggung jawab. Tidak ada yang menyebutnya latihan berpisah. Namun yang jarang diakui: bersamaan dengan itu, kita juga merencanakan diri tanpa orang-orang tertentu . Kita membayangkan rutinitas yang berubah, peran yang bergeser, keputusan yang dulu mustahil karena “dia masih ada”. Di sinilah kebohongan halus bekerja. Kita mengira perencanaan itu bentuk cinta. Padahal sebagian besarnya adalah upaya mengurangi ketergantungan emosional . Kita tidak sedang menjaga orang lain agar aman bila kita mati. Kita sedang men...

Merencanakan kematian

Kesedihan sejati jarang panjang. Yang panjang adalah rasa kehilangan kendali—dan upaya keras untuk merebutnya kembali. Kita tidak takut pada kematian orang lain. Kita takut pada kekacauan yang ditinggalkannya. Kematian bukan pusat tragedi. Ia hanya penanda administratif bahwa satu bab berhenti. Dan manusia, dengan atau tanpa air mata, akan tetap menulis bab berikutnya— bukan karena cinta telah sembuh, melainkan karena hidup tidak menunggu siapa pun selesai bersedih.

KPR dan Ilusi Kepemilikan

Gambar
KPR dan Ilusi Kepemilikan Kredit Pemilikan Rumah sering dipresentasikan sebagai pintu masuk menuju stabilitas hidup. Sebuah rumah, selembar sertifikat, dan janji masa depan yang tertata. Namun di balik narasi itu, terdapat kekeliruan konseptual yang jarang dibongkar secara jujur. Dalam KPR, kepemilikan tidak hadir sejak awal. Ia ditangguhkan. Rumah ditempati, tetapi belum dimiliki. Sertifikat ada, tetapi terikat. Yang benar benar dimiliki hanyalah kewajiban jangka panjang, cicilan bulanan yang menuntut kepastian pendapatan selama puluhan tahun. Ini bukan kepemilikan. Ini kontrak ketergantungan. Ilusi muncul karena bahasa. Kata rumah langsung diasosiasikan dengan aman. Padahal secara struktural, posisi debitur lebih dekat pada penyewa dengan risiko tinggi. Terlambat membayar, rumah tidak lagi aman. Berubah fungsi dari tempat berlindung menjadi sumber kecemasan. Atap yang sama bisa menjadi pengingat kegagalan ekonomi. Masalah utama bukan pada skema kredit itu sendiri, melainkan pada ...

Saya tidak berencana membiayai anak saya kuliah

Education, Funding, and the Reconfiguration of Parental Responsibility A Capability-Based Critique of Dependency-Oriented Educational Norms Abstract Contemporary discourse on parental responsibility in higher education frequently conflates educational support with financial provision, treating the latter as a moral imperative. This paper challenges that conflation by distinguishing education as the formation of human capability from funding as a protective economic mechanism. Drawing on a capability-based framework, the paper argues that unconditional parental financing of university education risks prolonging dependency rather than cultivating adult agency. Through a concrete model of work-based learning and responsibility transfer, this paper proposes a reconfiguration of parental duty—from protection toward structured exposure to consequence—as a legitimate and defensible philosophy of education. 1. Introduction: The Moralization of Funding in Educational Discourse In many contempor...

Logika Pembayaran Servis Laptop terutama yang bekas gagal servis tempat lain

Gambar
Servis Berbasis Diagnosis Mengapa Kasus Gagal dan Bekas Malpraktik Tidak Bisa Disamakan Tidak semua laptop datang dalam kondisi netral. Sebagian tiba sebagai pasien rujukan , bekas ditangani, dibongkar, bahkan disakiti oleh tangan yang tergesa atau tidak memahami sistem. Kasus seperti ini tidak bisa diperlakukan seperti servis biasa . 1. Bekas Gagal Servis adalah Pasien Trauma Di dunia medis, pasien rujukan selalu lebih sulit. Bukan hanya karena penyakit awalnya, tetapi karena jejak tindakan sebelumnya . Dalam servis laptop, bekas gagal servis sering membawa: jalur terpotong atau terkelupas, komponen diganti tanpa analisis, solder berlebihan, firmware dimodifikasi sembarangan, proteksi bawaan yang sudah dilumpuhkan. Ini setara dengan malpraktik teknis . Bukan lagi sekadar kerusakan alami. 2. Diagnosis Menjadi Lebih Berat dan Lebih Mahal Pada kasus normal, diagnosis mencari satu sebab utama . Pada kasus bekas gagal servis, diagnosis harus menjawab dua hal: kerusakan awal, kerusakan tamb...

Menulis tanpa peduli dibaca atau tidak

Ketika Tukang Servis Memilih Jujur Menggunakan AI Di era ketika keaslian sering dipalsukan dan keahlian dibungkus slogan, kejujuran justru menjadi diferensiasi paling mahal. Pengakuan terbuka bahwa tulisan dibantu AI bukan kelemahan pemasaran. Ia adalah strategi jangka panjang yang bekerja pelan, sunyi, dan efektif. Seorang tukang servis tidak hidup dari retorika. Ia hidup dari hasil. Laptop menyala atau mati. Data selamat atau hilang. Keputusan teknis selalu memiliki konsekuensi nyata. Maka ketika ia berkata bahwa AI membantunya mengetik dan menjelaskan, yang ia lakukan bukan merendahkan diri, melainkan menata ulang ekspektasi pasar . 1. Reposisi Identitas: Dari Tukang Ketik ke Pemikul Risiko Dengan jujur menggunakan AI, posisi profesional bergeser. Ia tidak lagi dinilai dari panjang pendek tulisan, tetapi dari kualitas keputusan. Pasar diajak memahami satu hal sederhana: waktu seorang teknisi bernilai tinggi di meja kerja, bukan di keyboard. Ini bukan defensif. Ini deklarasi priorit...
  ANALOGI MANAJEMEN SDM (Terjemahan dari Power State S5 sampai S0) Bayangkan perusahaan besar , bukan bengkel kecil. Yang kita bicarakan bukan sekadar hadir atau tidak hadir, tetapi hak bekerja, izin mengambil keputusan, dan alur otoritas . 1. S5 | Kantor Masih Tutup, Tapi Sistem Keamanan Hidup (+3VS5 / +5VS5) Ini fase: listrik gedung menyala satpam berjaga server absensi aktif manajemen belum masuk kantor Dalam SDM: Perusahaan eksis secara administratif , tapi belum beroperasi. Jika di fase ini listrik saja mati: tidak ada absensi tidak ada akses data tidak ada siapa pun yang sah bekerja Analoginya: Tanpa S5, perusahaan bukan “libur”, tapi tidak pernah ada . 2. S3 | Staf Datang, Tapi Belum Boleh Bekerja (+VSUS, DDR_VTT, izin data) Karyawan sudah: masuk gedung duduk di meja komputer menyala Tapi: password belum aktif sistem belum sinkron server belum membuka akses penuh Dalam SDM: Orangnya ha...

Pendidikan yang Bocor dari Hal Sepele

Peristiwa penyitaan sandal yang kemudian hilang —lalu secara ironis bisa diambil kembali oleh siswa tertentu karena memiliki kakak—bukan sekadar kisah kecil tentang alas kaki. Ia adalah fragmen telanjang dari masalah yang lebih dalam: kegagalan etika, kegagalan tata kelola, dan kegagalan pendidikan karakter yang justru terjadi di ruang yang mengklaim mendidik. Penyitaan, dalam kerangka pedagogik, seharusnya bersifat mendidik , bukan menghukum secara sewenang-wenang. Barang yang disita bukan rampasan perang. Ia adalah amanah sementara. Ketika barang itu hilang, atau berpindah tangan tanpa prosedur yang adil, maka yang runtuh bukan hanya sandal—melainkan legitimasi moral institusi. Lebih pahit lagi, muncul fakta bahwa sebagian siswa dapat mengambil sandal sitaan karena memiliki kakak. Di titik ini, disiplin berubah menjadi nepotisme mikro . Aturan yang seharusnya impersonal dan setara, dilunakkan oleh relasi darah. Pesan yang diterima siswa sangat jelas, meski tak pernah diucapkan: keadi...
Pendidikan kesehatan kedokteran, keperawatan, farmasi, dan kebidanan adalah proyek epistemik dan struktural yang mahal. Ia tidak sekadar menuntut kemampuan kognitif, tetapi juga keselarasan antara pengetahuan, disposisi batin, dan ketahanan mental. Tanpa minat murni, proses belajar berubah dari formasi profesional menjadi sekadar akumulasi kredensial. Masalah muncul ketika pilihan pendidikan ini tidak lahir dari kesadaran epistemik subjek, melainkan dari transmisi ambisi keluarga. Anak tidak ditempatkan sebagai agen pengetahuan, tetapi sebagai medium reproduksi status. Pada titik ini, pendidikan kehilangan fungsi pembebasnya dan berubah menjadi mekanisme domestikasi yang rapi. Secara struktural, biaya pendidikan kesehatan sangat tinggi dan bersifat irreversible. Waktu, energi, dan peluang alternatif dikunci dalam satu lintasan sempit. Namun setelah lulus, lulusan masuk ke pasar kerja yang semakin jenuh, hierarkis, dan eksploitatif. Sistem ini tidak ramah pada individu yang tidak...

Ketika Tender Dilepas Hanya sebagai Formalitas

Tender, dalam pengertian sehatnya, adalah ruang kompetisi yang jujur. Ia diciptakan untuk mempertemukan kebutuhan dengan kemampuan terbaik, harga dengan kualitas, dan kepentingan publik dengan akal sehat. Namun dalam praktik yang menyimpang, tender sering direduksi menjadi sekadar ritual administratif. Dibuka bukan untuk memilih, melainkan untuk mengesahkan keputusan yang sudah lahir diam diam. Formalitas yang Menyamar sebagai Prosedur Tender formalitas adalah tender yang hasilnya sudah ditentukan sebelum pengumuman dibuat. Dokumen, jadwal, dan kontak hanyalah ornamen hukum agar sebuah keputusan tampak sah di atas kertas. Prosedur dijalankan, tetapi substansi ditiadakan. Di titik ini, tender tidak lagi berfungsi sebagai alat seleksi, melainkan sebagai tameng. Tameng dari pertanyaan publik, dari kewajiban transparansi, dan dari tanggung jawab moral. Ciri Ciri yang Terlihat Jelas bagi Mata yang Jujur Pertama, spesifikasi teknis kabur atau terlalu umum. Tidak ada detail yang...
Analisis Ilmiah sekaligus Kerangka Argumen bila Wali Murid Meminta Ganti Rugi Nada tegas, berbasis bukti, dan bernalar jernih — argumen ini disusun untuk membela akuntabilitas institusi pendidikan. Pertimbangan Ilmiah: Apakah Wali Murid Berhak Menuntut Ganti Rugi? Dalam manajemen pendidikan, barang sitaan siswa — seperti sendal, sepatu, atau atribut lain — berada di bawah tanggung jawab penuh institusi selama proses penyitaan berlangsung. Ketika sekolah mengambil alih suatu barang, berlaku asas: Asas Pertanggungjawaban Penguasaan (Principle of Custodial Responsibility) Pihak yang menyita berkewajiban menjaga, mencatat, dan mengembalikan barang dalam kondisi semula. Kegagalan menjalankan kewajiban ini dapat dikategorikan secara ilmiah sebagai: Kelalaian prosedural (procedural negligence) Penyalahgunaan kewenangan administratif (administrative malpractice) Dalam kasus ini, barang yang disita hilang setelah lebih dari ...