Merencanakan Kematian (Bagian II)
Bagian II — Kematian sebagai Risiko Operasional Setiap sistem yang matang selalu mengakui satu hal: kegagalan bukan soal jika , melainkan kapan . Dalam dunia teknik, keuangan, dan manajemen, asumsi ini dianggap sehat. Anehnya, ketika prinsip yang sama diterapkan pada relasi manusia, ia langsung dicap sinis. Padahal keluarga, pernikahan, dan pekerjaan adalah sistem. Dan semua sistem memiliki single point of failure . Kematian adalah kegagalan paling absolut. Tidak bisa ditunda. Tidak bisa dinegosiasikan. Tidak bisa ditambal dengan niat baik. Maka manusia yang berpikir jernih—meski enggan mengaku—akan memperlakukan kematian sebagai risiko operasional . Bukan karena ia tidak mencintai, tetapi karena ia memahami biaya kehancuran total. Ketergantungan absolut terdengar romantis, namun secara struktural rapuh. Satu orang memegang terlalu banyak fungsi: emosional, ekonomi, sosial, administratif. Ketika ia pergi, yang runtuh bukan hanya perasaan, tetapi seluruh mekanisme hidup....